Home » Dewesternization (page 3)

Dewesternization

Tazkiyah An-Nafs

Salah satu misi mengapa Allah mengutus para Rasul adalah untuk pensucian diri atau “tazkiyatunnafs” (QS. Al-Jum’ah 2). Mengapa diri manusia harus disucikan? Alasannya sesuai dengan watak jiwa manusia yang diciptakan dengan sebaik-baik ciptaan. Namun manusia diberi potensi untuk berbuat kebaikan (taqwa) dan kejahatan (fujur) ” (QS. Al-Shams 7-8). Maka dari itu manusia tidak luput dari berbuat salah dan dosa, sekecil ...

Read More »

Jihad

Pada 11 September, 2001 dua pesawat penumpang menabrak dua menara kembar World Trade Center di Amerika Serikat. Diduga pelakunya adalah Muslim teroris Muslim, terutama Usama bin Ladin. Setelah itu beberapa Negara Islam dicurigai sebagai sumber terorisme. Tak ayal lagi Negara Afghanistan dan Iraq diperangi dan dikuasai hingga kini. Media Barat secara latah segera mengkaitkan peristiwa ini dengan jihad umat Islam. ...

Read More »

Religious-Humanis

“Percuma menjadi religius kalau tidak manusiawi”, “Daripada beragama tapi jahat lebih baik berperikemanusiaan meski tidak beragama”. Itulah logika geram para pembenci agama dan pengusung humanisme. Logikanya begitu humanis tapi justru seperti ateis. Dan ternyata “jimat” atau aji-aji pamungkas orang sekular-liberal dan bahkan ateis untuk menyerang agama adalah dalih humanisme. Sejarahnya, memang di Barat telah terjadi perubahan orientasi masyarakat dari teosentris ...

Read More »

Averroisme

“Pemikiran Ibn Rusyd diambil Barat sehingga Barat menjadi maju, sedang pemikiran al-Ghazzali dibawa ke Timur dan karena itu Timur mundur.” Kesimpulan ini tersebar luas di kalangan mahasiswa dan dosen dari dulu hingga kini. Tidak jelas siapa yang mula-mula menyebarkannya, tapi orientalis pada umumnya berasumsi begitu. Pemikiran Ibn Rusyd memang populer di Barat karena gagasan integrasi filsafat dan agamanya. Sejak diterjemahkan ...

Read More »

Agama Dalam Pemikiran Barat Modern dan Post-Modern

Pendahuluan Diskursus mengenai agama dalam konteks situasi yang sekarang ini disebut modern dan post-modern sangat marak dikalangan sosiolog, filosof dan pemikir keagamaan. Akbar S. Ahmed,[1] Ernest Gellner,[2] David Griffin,[3] and Huston Smith[4], adalah sedikit contoh dari mereka yang membahas masalah ini.  Diskursus ini menjadi marak bukan karena semakin meningkatnya peran agama dalam kehidupan masyarakat post-modern, akan tetapi karena post-modernisme itu ...

Read More »