Akar Kebudayaan Barat

Pendahuluan

Sebuah kebudayaan atau peradaban memiliki sejarahnya sendiri-sendiri untuk bangkit dan berkembang. Namun, suatu peradaban tidak mungkin lahir dan berkembang tanpa bersentuhan dengan kebudyaan lain dan saling meminjam. Proses pinjam meminjam antar kebudayaan hanya bisa terjadi jika masing-masing kebudayaan memiliki mekanismenya sendiri-sendiri. 

Pada umumnya sarjana Barat modern membagi sejarah Barat (Eropah) menjadi zaman kuno, zaman pertengahan dan zaman modern. Yang kuno dibagi menjadi Yunani dan Romawi. Zaman Pertengahan dikelompokkan menjadi zaman Kristen awal, transisi dari kuno ke Pertengahan dan Pencerahan.[1] Ini berarti bahwa akar zaman modern adalah Yunani, Romawi dan Abad Pertengahan. Akan tetapi  para sejarawan Barat berbeda pendapat mengenai asal usul kebudayaan mereka. Perbedaan itu meruncing ketika para sejarawan berpegang pada ilmu sebagai akar kebudayaan. Artinya, sebuah kebudayaan atau peradaban akan lahir dan berkembang seiring dengan perkembangan konsep-konsep keilmuan didalamnya. Sebab faktor keilmuan inilah sebenarnya yang melahirkan akifitas sosial, politik, ekonomi dan aktifitas kultural lainnya. Dengan kata lain, kerja-kerja intelektual dan keilmuan anggota masyarkatlah sebenarnya yang melahirkan kebudayaan. Ini berimplikasi bahwa diatas konsep-konsep keilmuan terdapat suatu sistim dan super sistim yang disebut dengan worldview (pandangan hidup atau pandangan alam). Suatu peradaban tidak akan bangkit dan berkembang tanpa adanya pandangan hidup dan aktifitas keilmuan di dalam masyarakatnya. Demikian pula Barat, sebagai kebudayaan, tidak akan bangkit dan berkembang dan melahirkan sains tanpa memiliki pandangan hidup terlebih dahulu.[2]   Atas dasar itu, maka makalah ini akan mengkaji akar kebudayaan Barat dengan melacak fondasi kebudayaan itu dari sisi pemikiran filsafat dan sains yang melibatkan transmisi pandangan hidup.

Dari Kebudayaan Yunani

Seperti yang telah disebutkan diatas, Yunani adalah faktor penting bagi kebangkitan kebudayaan Barat, meskipun mereka masih berselisih tentang bagaimana faktor tersebut berperan dalam kebudayaan itu. Dalam menggambarkan munculnya filsafat dan sain, para sejarawan Barat, memiliki dua pendekatan. Pertama, bahwa awal dan akar kebangkitan filsafat dan sains Barat adalah warisan intelektual Yunani. Jones dalam A History of Western Thought, misalnya menganggap bahwa “mungkin sejarah kebudayaan Barat bermula dari bermulanya filsafat Barat, dan filsafat Barat dimulai dari abad ke 6 SM dengan tokohnya Thales, Bapak filosof Yunani dan juga dunia Barat”.[3]   Pendekatan ini didukung oleh R.B.Onians,[4] W.H.A.Arthur[5] dan lainnya.

Asumsi pendekatan ini berdasarkan pada fakta bahwa konsep-konsep mendasar pada filsafat Yunani seperti hakekat akal, jiwa, hidup, hubungan jiwa dan raga dan lain-lain ditangkap oleh para filosof Barat yang datang kemudian lalu diterima oleh bangsa-bangsa semit, Indo-Eropah dan Anglo-Saxon. Namun pada tahap ini, mereka tidak lagi mengakui adanya pengaruh filsafat Yunani. Bagi mereka filsafat Yunani telah dikubur dalam (burried deep), dan tumbuh berkembang dalam pikiran individu dan aliran-aliran, meskipun individu filosof atau aliran-aliran tersebut hanya sekedar melakukan kritik dan imporvisasi terhadap konsep-konsep Yunani tersebut. Cara pandang ini berbeda dari cara pandang orientalis ketika membaca sejarah filsafat Islam. Filsafat Islam hanya dianggap carbon copy dari filsafat Yunani. Nampaknya framework ini berusaha untuk mengkaitkan pemikiran Yunani dengan Indo-Eropah melalui persamaan konsep-kosepnya.

Framework kedua yang dipelopori oleh Couplestone dan Holmes menganggap framework ini lemah, sebab sekedar melacak persamaan akan mengakibatkan kesimpulan bahwa jika suatu pemikiran memiliki kesamaan dengan yang lain, maka yang satu berasal dari yang lain. Artinya suatu pemikiran bangsa manapun yang sama dengan pemikiran Yunani bisa dianggap berasal dari Yunani, padahal persamaan tidak selamanya berimplikasi asal usul. Menurut framework ini antara Barat dan Yunani terdapat hubungan, tapi bukan dalam arti meminjam, asal usul atau permulaan. Bagi Couplestone setiap kali terdapat kesamaan pemikiran antara seorang pemikir dan pemikir lain yang datang kemudian tidak selamanya berarti yang datang kemudian meminjam dari yang pertama. Ionia adalah tempat kelahiran pemikiran Barat, tapi baginya Barat tidak meminjam ide-ide dari Yunani.[6] Holmes juga tidak menggunakan istilah “permulaan” atau “asal usul”, dan sebagai gantinya ia memakai istilah melihat “kebelakang”. Artinya Eropah Barat secara alami melihat kebelakang kepada kebudayaan Yunani abad ke lima SM.[7] Artinya meskipun Barat lahir dari Yunani, tapi ia tidak bermula dari sana. Ia berkembang dengan cara dan tempat yang berbeda.

Kedua framework diatas seakan ingin menunjukkan disatu sisi bahwa filsafat Yunani adalah satu faktor, sedangkan filsafat Barat adalah faktor yang lain. Namun disisi lain juga tidak dapat diingkari bahwa keduanya saling berhubungan dalam kurun waktu yang panjang melalui proses asimiliasi yang asasnya adalah aktifitas intelektual yang melibatkan faktor-faktor lain selain Yunani sendiri. Sebab Yunani sendiri tidak dapat di anggap satu-satunya faktor penentu atau sumber bagi kebangkitan kebudayaan Barat. Dalam hal ini Coupleston membuat permisalan bahwa:

Menganggap bahwa jika beberapa adat istiadat atau ritual Kristen yang sebagiannya berasal dari Agama-agama Asia Timur, maka [berarti] Kristen pasti telah meminjam adat dan ritus itu dari Asia adalah absurd. Sama absurdnya ketika menganggap jika pemikiran spekulatif Yunani mengandung beberapa pemikiran yang sama dengan filsafat Timur, maka yang kedua bersumber secara historis dari yang pertama. Padahal, akal manusia sangat mungkin untuk melakukan interpretasi terhadap pengalaman yang sama dengan cara yang sama…..walaupun ketergantungan aliran-aliran Filsafat Romawi terhadap pendahulu mereka dari Yunani tidak dapat dipungkiri, namun kita tidak dapat menafikan wujudnya filsafat di dunia Romawi.[8]

Pernyataan diatas berarti bahwa filsafat Yunani dan Barat tidak dapat dianggap sesuatu yang kontinum. Yang kedua tidak semestinya berakar pada yang pertama. Jika framework ini ditrapkan pada alam pikiran Islam, maka filsafat dan sains yang dihasilkan oleh Muslim pada Abad Pertengahan dapat dikatakan sebagai filsafat dan sains Islam dan tidak ada kaitannya dengan Yunani. Tapi sayangnya framework ini ditrapkan hanya pada filsafat dan pemikiran Barat dan tidak ditrapkan pada pemikiran dan filsafat Islam.  Meskipun Muslim dianggap telah meminjam beberapa elemen penting dari Yunani, India dan Persia, mereka tidak dapat dikatakan sebagai sumber filsafat dan sains Islam. Sebab pinjam meminjam antar kebudayaan adalah sesuatu yang alami pada setiap kebudayaan.

Dari Abad Pertengahan

Jika Ionia, tempat bermulanya pemikiran Yunani, dianggap sebagai tempat kelahiran kebudayaan Barat, maka seharusnya ia bermula dari sana dan terus berkembang hingga abad modern. Seperti seorang manusia, suatu kebudayaan  lahir tumbuh terus menerus dan kemudian mati. Maka dari itu jika suatu kebudayaan tidak lagi tumbuh, maka ia dianggap mati. Dalam kasus Yunani, sesudah berakhirnya zaman kuno oleh Aristotle (384-322 BC) atau yang paling akhir Plotinus ( 204-270), di sana tidak ada lagi perkembangan yang berarti, khususnya dalam bidang filsafat dan sains. Dari periode ini hingga abad ke 6 atau 8 M, Barat melalui zaman yang disebut Zaman Kegelapan (Dark Ages), yang berarti keberlangsungannya terputus. Disinilah mungkin alasannya mengapa beberapa sejarawan Barat menolak Yunani sebagai tempat kelahiran Kebudayaan Barat. Sebab sesudah berakhirnya Zaman Kegelapan, Barat memulai periode perkembangannya yang baru sebagai persiapan menuju kebangkitan.

Zaman baru yang kemudian disebut dengan Abad Pertengahan (Middle Ages atau Medieval) dianggap sebagai permulaan kebudayaan Barat. Bagi Holmes peradaban Barat tercipta pada periode ini.[9] Namun karena terdapat kontroversi dikalangan sejarawan tentang waktu yang pasti kapan persisnya Zaman Kegalapan bermula, maka waktu yang pasti kapan Zaman Pertengahan dimulai juga masih diperdebatkan. Martin menganggap Abad Pertengahan bermula dari tahun 800 M, pada masa Cherlemagne atau tahun 1000 M, ketika serangan terhadap kebudayaan Eropah Barat berakhir.[10] John Marenbon   menganggap tahun 1000 atau abad ke 11 sebagai permulaan Zaman Pertengahan periode akhir, tapi awalnya bermula dari tahun 480 M yang ditandai oleh datangnya Boethius.[11]  

Upaya untuk menetapkan permulaan Zaman Pertengahan sebelum abad ke 8, nampaknya hanyalah untuk mencari hubungan Barat dengan masyarakat Kristen. Tapi sebenarnya sebelum Abad ke 6 atau yang agak akhir abad ke 8, Barat belum mulai bangkit. Itulah sebabnya abad ini disebut Abad Kegelapan. [12] Pada periode ini, khususnya, di awal abad ke 6, Kristen telah menyebar keluar dari tanah kelahirannya Palestina ke Eropah, Mesopotamia, Armenia, Caucasus, Nubia dan Abyssinia. Namun di daerah-daerah dimana Kristen tersebar tidak ada bukti kuat akan adanya prestasi intelektual, yaitu dalam bidang filsafat dan sains. Meskipun waktu itu, yakni abad 3 dan 5 M, banyak cendekiawan Kristen yang menguasai filsafat Yunani, tapi filsafat Yunani hanya diserap kedalam diskursus teologi saja. Maka dari itu apa yang dianggap filsafat pada masa itu, menurut Marenbon bukanlah filsafat, tapi teologi. Itulah sebabnya kontribusi para paderi Kristen terhadap perkembangan filsafat pada awal Abad Pertengahan di Barat, dianggap sangat minim.[13] Alasannya jelas, bahwa pemikiran spekulatif Yunani pada masa itu tidak banyak yang diterjemahkan. Maka dari itu menetapkan waktu awal kebangkitan  kebudayaan Barat pada abad ke 6 adalah tidak relevan.

Jika Abad Pertengahan dianggap sebagai akar kebangkitan Barat, maka semestinya pada abad ini terdapat segala sesuatu bagi persiapan kebangkitan Barat. Tapi menurut Willian R Cook et al., dalam bukunya The Medieval Worldview, Yunani kuno masih tetap dianggap sebagai “inventor”terbesar bagi kebudayaan Barat dibanding yang lain. Aspek-aspek seni dan sastra, penulisan sejarah, demokrasi, cabang-cabang filsafat termasuk filsafat politik, etika dan ilmu-ilmu yang sekarang dikelompokkan sebagai ilmu-ilmu alam (natrual sciences) berasal dari Yunani. Tapi dari itu semua warisan Yunani terpenting yang disumbangkan kepada Abad Pertengahan adalah pemikiran dua filosof besar Plato dan Aristotle.[14]  Sejarawan David Knowles dalam The Evolution of Medieval Thought bahkan menyatakan bahwa hampir semua pemikiran filsafat Abad Pertengahan yang paling utama diambil dari pemikiran Athena antara tahun 450-300 SM,[15]  maksudnya dari pemikiran Plato. Menurut William, semua pemikiran Aristotle  tidak ada yang dibuang pada Abad Pertengahan. Bahkan kompilasi undang-undang gereja abad ke 12 dan digunakan pada abad-abad berikutnya disusun berdasarkan prinsip-prinsip logika Aristotle. Sintesis teologi Thomas Aquinas yang terkenal yaitu Summa Theologiae tersusun berkat logika Aristotle.[16] Tapi masalahnya, baik pemikiran Plato maupun Aristotle tidak diketahui masyarakat barat Abad Pertengahan secara langsung. Terjemahan Boethius terhadap sebagian karya logika Aristotle tahun 500 M,  pun tidak diketahui oleh masyarakat Eropah Barat dari abad ke 8 hingga abad ke 12.

William menggambarkan bahwa akar Abad Pertengahan adalah percampuran antara Yahudi-Kristen dan Yunani-Romawi yang terjadi dizaman kekaisaran Romawi. Namun, Romawi tidak betahan lama dan digantikan oleh kultur Kristen-Latin, meskipun tanpa dukungan institusi yang kuat. Tak lama kemudian kebudayaan Jerman dan Celtic, khususnya Irlandia masuk dan mempengaruhi pandangan hidup Barat. Periode ini menurut William sangat penting bagi perkembangan kebudayaan Barat.[17] Disini persoalan dari mana Barat Abad Pertengahan belajar pemikiran Plato dan Aristotle masih kabur dalam sejarah Barat. Yang pasti Barat Abad Pertengahan telah berhasil keluar dari Abad Kegelapan (Dark Ages) dan mengembangkan suatu pandangan hidup baru (new worldview) yang mengantarkan mereka kepada abad Pencerahan. Dalam masalah ini Alparslan berkomentar “if the West did not develop a new worldview in the Middle Age, they would not be able to come out of the Dark Ages and as a result no adequate environment for scientific progress would have been possible within that civilization”.[18]  Hanya pertanyaannya, darimanakah Barat Abad Pertengahan memperoleh pandangan hidup baru itu?

Dari Pandangan Hidup Islam

Jawaban dari pertanyaan diatas tidak lain hanyalah faktor Islam. Faktor yang tidak banyak diperhitungkan oleh sejarawan Barat. Kebangkitan Islam dengan pandangan hidup yang baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad mengalami penyebaran yang cepat dibawah kekhalifahan bani Umayyah, dan kemudian Abbasiyah dari abad ke 6 hingga 15 M. Pada zaman inilah Abad Kegelapan dan Abad Pertengahan Barat berada, dan Kristen pada masa itu tersebar dipinggiran dunia Islam.[19] Pandangan hidup Islam secara perlahan-lahan termanifestasikan kedalam kegiatan-kegiatan intelektual dan keilmuan. Sebagai hasilnya, dapat disaksikan ketika Muslim menaklukkan dan menguasai Spanyol dan daerah lain seperti Levant. Kawasan ini kemudian menjadi daerah yang paling cerah dan menjadi kehidupan kultural yang paling dinamis dalam peta kebudayaan Kristen di Barat.. 

Dizaman kekhalifahan Bani Umayyah, misalnya Muslim telah banyak mentransmisikan pemikiran Yunani. Hampir semua karya Aristotle, dan juga tiga buku terakhir Plotinus Eneads, beberapa karya Plato dan Neo-Platonis, karya-karya penting Hippocrates, Galen, Euclid, Ptolemy dan lain-lain sudah berada di tangan Muslilm untuk proses asimilasi.[20]

Jadi Muslim tidak hanya menterjemahkan karya-karya Yunani tersebut. Mereka mengkaji teks-teks itu, memberi komentar, memodifikasi dan mengasimilasikannya dengan ajaran Islam.[21] Jadi proses asimilasi terjadi ketika peradaban Islam telah kokoh. Artinya ummat Islam mengadapsi pemikiran Yunani ketka peradaban Islam telah mencapai kematangannya dengan pandangan hidupnya yang kuat.  Disitu sains, filsafat dan kedoketeran Yunani diadapsi sehingga masuk kedalam lingkungan pandangan hidup Islam.[22] Produk dari proses ini adalah lahirnya pemikiran baru yang berbeda dari pemikiran Yunani dan bahkan boleh jadi asing bagi pemikiran Yunani. Bandingkan misalnya konsep jawhar para mutakallimun dengan konsep atom Democritus.  Jadi, tidak benar, kesimpullan Alfred Gullimaune yang menyatakan bahwa framework, skop dan materi Filsafat Arab dapat ditelusuri dari bidang-bidang dimana Filsafat Yunani mendominasi sistim ummat Islam.[23] Sebab pemikiran Yunani, menjadi tidak dominan setelah proses transmisi. Muslim lebih berani memodifikasi pemikiran Yunani dan mengharmonisasikannya dengan Islam keimbang masyarakat Barat Abad Pertengahan, sehingga akal dan wahyu dapat berjalan seiring sejalan dan pemikiran Yunani tidak lagi menampakkan wajah aslinya. Berbeda dari Muslim, masyarakat Barat Abad Pertengahan yang mengaku mengetahui karya-karya Yunani, ternyata tidak mampu mengharomiskan filsafat, sains dengan agama.  Kondisi ini kelihatannya yang mendorong para teolog Kristen menggunakan tangan pemikir Muslim untuk memahami khazanah pemikiran Yunani.

Jika pemikiran Muslim didominasi pemikiran Yunani, maka wajah peradaban Islam di Spanyol mestinya adalah wajah Yunani. Tapi realitanya, Spanyol adalah satu-satunya lingkungan kultural Muslim yang dominan, padahal kawasan itu merupakan tempat pertemuan kebudayaan Kristen, Islam dan Yahudi. Fakta sejarah membuktikan bahwa di Spanyol orang-orang Kristen tenggelam kedalam apa yang disebut sebagai Mozarabic Culture.[24] Kultur Islam yang dominan inilah mungkin yang memberi sumbangan besar bagi lahirnya pandangan hidup baru di Barat. Morris menggambarkan bahwa kontak dan konflik antara Kristen-Yahudi dan Muslim memberi stimulus tidak saja kepada bangkitnya ideologi dan intelektualitas Eropah Abad Pertengahan, tapi juga imaginasinya.[25] Maksudnya kuriositas orang-orang Barat tumbuh ketika menyadari bahwa Muslim memiliki pandangan hidup yang canggih (sophisticated) dan ilmu pengetahuan yang kaya lebih dari apa yang terdapat di dunia Latin. Inilah yang sebenarnya terjadi.

Dari perspektif teori terbentuknya pandangan hidup[26] kita dapat menyatakan bahwa Spanyol adalah tempat dimana Barat menyerap aspirasi dari Muslim bagi pengembangan pandangan hidup mereka. Atau setidak-tidaknya, Barat memanfaatkan pertemuan mereka dengan Muslim untuk memperkaya pandangan hidup mereka. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Barat menempuh berbagai macam cara untuk mentransfer aspek-aspek penting pandangan hidup Islam  yang berupa konsep-konsep itu. Jayusi mengkaji dan menemukan bahwa model transformasi kultur Islam ke dalam kebudayaan Barat ada lima: pertama, melalui cerita-cerita dan syair-syair yang ditransmisikan secara oral oleh orang-orang Barat. Kedua, dengan cara kunjungan atau tourisme, pada abad ke 7 M, Cordoba adalah ibukota negara Islam yang menonjol dan merupakan kota yang paling berperadaban di Eropah, dan karena itu orang Eropah berduyun-duyun mengunjungi tempat ini untuk belajar dari peradaban Islam. Ketiga, waktu itu terdapat hubungan perdagangan dan politik resmi melalui utusan yang dikirim dari kerajaan-kerajaan di Eropah. Keempat, dengan cara menterjemahkan karya-karya ilmiyah orang Islam. Faktanya, monastri-monsatri Eropah, khususnya Santa Marie de Rippol, pada abad 12 dan 13 M memmiliki ruangan penyimpan manuskrip bagi sejumlah besar karya-karya ilmiyah orang Islam untuk mereka terjemahkan. Kelima, untuk kelancaran proses penterjemahan raja-raja Eropah mendirikan sekolah untuk para penterjemah di Toledo, tepat sesudah pasukan Kristen merebut kembali kota tersebut pada tahun 1085. tujuannya adalah untuk menggali ilmu pengetahuan Islam yang terdapat pada perpustakaan-perpustakaan bekas jajahan Muslim itu.[27]

Namun, kebangkitan Barat tidak terjadi langsung sesudah proses tranformasi tersebut diatas. Sebab tidak ada peradaban yang bangkit secara mendadak dan tiba-tiba, sekurang-kurangnya diperlukan waktu satu abad lamanya bagi suatu peradaban untuk bangkit. Islam sendiri bangkit menjadi sebuah peradaban yang memiliki konsep-konsep kepercayaan, kehidupan, keilmuan dan lain sebagainya sesudah beberapa abad lamanya. Dari awal kemunculannya pada abad ke 7 M, Muslim baru dapat muncul sebagai peradaban yang kuat pada abad ke 12 M, disaat mana para cendekiawannya mampu menguasai ilmu pengetahuan Yunani, Persia dan India, dan kemudian menghasilkan ilmu pengetahuan baru yang telah disesuaikan dengan konsep-konsep penting dalam pandangan hidup Islam. Ilmu-ilmu yang dihasilkan diantaranya adalah matematika, kedokteran, farmasi, optik dan lain-lain. Ini bukan sekedar sistimatisasi ilmu pengetahuan Yunani, seperti yang di duga para orientalis,[28] tapi menyangkut hal-hal yang detail dan bahkan menghasilkan prinsip-prinsip baru dalam bidang sains, sehingga hasilnya sains dalam Islam, dalam bahasa Willian McNeil “went beyond anything known to these ancient preceptors“.[29]    

Sesudah melalui sejarah yang panjang proses transformasi dan penyerapan peradaban Islam kedalam kebudayaan Barat, para ilmuwan Barat, dibawah kepemimpinan para pendeta Kristen, mulai mengembangkan filsafat dan sain mereka. Oleh sebab itu perkembangan Eropah Barat yang terjadi pada pertengahan abad ke 13 intinya adalah kombinasi elemen yang sering dinamakan Greco-Arabic-Latin. Selanjutnya, pada akhir abad ini kerajaan Kristen di Barat menjadi kekuatan kultural yang menonjol.[30] Dan dengan berakhirnya abad ke 15 konsep-konsep mereka tentang alam semesta dan ilmu pengetahuan menjadi matang dan melapangkan jalan bagi perkembangan filsafat dan sains di Barat.

Fakta-fakta sejarah dan framework para sejarawan dalam memahami fakta-fakta tersebut dapat diuji dengan merujuk kepada teori lahirnya pandangan hidup. Pembentukan suatu pandangan hidup dalam pikiran kita terjadi melalui kultur, teknologi, pemikiran keilmuan, keagamaan dan spekulasi yang diperoleh dari pendidikan atau upaya sadar dalam mencari ilmu. Jadi pandangan hidup diperoleh melalui proses alami, pendidikan dan masyarakat, serta agama. Setelah suatu pandangan hidup terbentuk, masyarakat dapat mengatur kehidupan mereka berdasarkan pada pandangan hidup, dimana ide, kepercayaan dan konsep-konsep membentuk suatu jalinan konsep yang saling berhubungan atau architectonic network, untuk meminjam istilah Kant. Ketika bangunan konsep dalam suatu pandangan hidup telah terbentuk maka adapsi, tansmisi dan transformasi konsep-konsep asing adalah sesuatu yang tidak lagi masalah. Tapi dalam kasus kebudayaan Barat, transmisi konsep-konsep asing melalui penterjemahan pada abad ke 5, atau awal Abad Pertengahan, seperti dinyatakan Marenbon, masih sangat sedikit. Ini terjadi karena bangunan konsep dalam pandangan hidup Barat belum terbentuk. Orang-orang Krsiten tidak berani menterjemahkan dan mensintesiskan pemikiran Yunani dengan dengan doktrin Kristen. Pernyataan Peter sangat jelas, bahwa orang Kristen tidak dapat menyempurnakan penterjemahan Organon Aristotle khawatir akan membahayakan keimanan mereka.[31] Mereka tidak mampu menyerap kecanggihan pemikiran Yunani karena tidak adanya mekanisme yang canggih untuk memproduksi konsep-konsep keilmuan yang terstruktur ‘scientific conceptual scheme’ dalam pandangan hidup mereka.

Fakta sejarah menunjukkan bahwa struktur konsep keilmuan di Barat lahir segera setelah mereka bersentuhan dengan peradaban Muslim yang canggih. Jadi ketika peradaban Islam memimpin dunia sejak abad ke 7 M hingga abad ke 15 M Barat tidak hanya mentransfer pemikiran Yunani dari Arab ke Latin, tapi juga menyerap mekanisme intelektual mereka yang canggih. Temuan Jayyusi tentang cara-cara Barat mentransfer berbagai aspek dari peradaban Islam, merupakan bukti yang memadahi bahwa sebenarnya mereka waktu itu sedang mengembangkan struktur konsep keilmuan dalam pandangan hidup mereka. Setelah mereka mengembangkan pandangan hidup mereka, orang Kristen Barat tidak lagi khawatir menerjemahkan teks-teks Yunani seperti sebelumnya, apalagi teks-teks yang telah disintesakan atau dimodifikasi oleh orang-orang Muslim.[32] Jadi lahirnya filsafat dan sains di Barat bukan hanya karena jasa terjemahan dari Yunani kedalam Islam atau Islam ke Latin, tapi juga karena adanya transmisi pandangan hidup Islam yang memilik struktur konsep keilmuan yang canggih kedalam pemikiran orang Barat. 

Penutup

Dari uraian diatas maka akar kebudayaan Barat bervariasi dan diantara akarnya yang mendorong munculnya abad Pencerahan adalah pandangan hidup Islam. Untuk menggaris bawahi kajian diatas pernyataan al-Attas yang sangat tepat dan penting untuk dikutip adalah bahwa kebudayaan Barat:

…..berkembang dari fusi kultur, filsafat, nilai dan aspirasi Yunani dan Romawi; dicampur dengan Yahudi dan Kristen, yang kemudian dikembangkan dan dibentuk oleh orang-orang Latin, Jerman, Celtic dan Nordic. Dari Yunani diambil elemen filsafat dan epistemologi, dasar-dasar pendidikan, etika dan estetika; dari Romawi diambil elemen hukumnya, ketata-negaraan dan pemerintahannya; dari Yahudi dan Kristen diambil elemen kepercayaannya dan dari orang-orang Latin, Jerman, Celtic dan Nordic diambil jiwa independen, nasionalisme dan nilai-nilai tradisionalnya. Pengembangan ilmu-ilmu alam dan fisika serta teknologi, yang dilakukan bersama orang-orang Slavia telah mendorong mereka mencapai puncak kekuasaan. Islam juga memberi sumbangan sangat penting kepada kebudayaan Barat dalam bidang ilmu pengetahuan dan dalam menanamkan semangat rasional dan keilmuan. Namun ilmu pengetahuan dan juga semangat rasional dan keilmuan itu telah dibentuk ulang agar sejalan dengan kultur Barat, sehingga semuanya menyatu dan bercampur dengan elemen-elemen lain yang membentuk ciri-ciri dan wajah kebudayaan Barat.[33]

Poin penting yang perlu dicatat adalah bahwa diantara akar kebudayaan Barat adalah ilmu pengetahuan, semangat rasional dan keilmuan yang disumbangkan Islam, dan itu semua merupakan elemen terpenting yang merupakan produk pandangan hidup Islam. Namun, tidak serta merta dapat disimpulkan bahwa karena Barat mengambil dari Islam, maka Muslim sekarang dapat mengambil segala sesuatu dari Barat. Sebab, seperti dinyatakan oleh al-Attas, konsep-konsep Islam yang diambil Barat telah dimodifikasi sehingga nilai-nilai Islam tidak dapat lagi dikenali, yang nampak menonjol adalah wajah kebudayaan Barat.  Proses yang sama juga terjadi ketika Islam sebagai peradaban yang memiliki konsep-konsep yang kuat, konsep-konsep pinjaman dari kebudayaan asing dimodifikasi dan ditransmisikan kedalam lingkungan konsep Islam dan hasilnya adalah konsep-konsep yang berwajah Islam. Proses itu perlu kini perlu dilakukan kembali agar konsep-konsep asing menjadi tuan rumah dalam peradaban Islam yang agung ini. 




[1] William R Cook dan Roland B Herzman, The Medieval Worldview, Oxford University Press, 1983, hal. 50,115,262.

[2] Acikgenc, Alparsalan, Islamic Science, Towards a Definition, ISTAC, Kuala Lumpur, 1996, pp.29-31.

[3] Lengkapnya “presumably a history of western philosophy should begin with the beginning of western philosophy, and western philosophy begun in the sixth century BC with Thales, the father of  Greek philosophy and thus the father of  philosophy in the western world” Jones, W.T.C, A History of Western Philosophy, The Classical Mind, Harcourt Brace Jovanovich        Publisher, Chicago, 1970, p.2.

[4] Onians, R.B. The Origin of European Thought, CambridgeUniversity Press, Cambridge, 1989.

[5] Arthur, W.H.A., et al., Reading in Western Civilization, University of Chicago Press, Chicago, 1985.

[6] Couplestone, A History of Philosophy, p. 11

[7] Holmes, George, The Oxford History of Medieval Europe, ibid.   pp, vi, ix.

[8]  Couplestone, A History of Philosophy,  p.11  

[9] Holmes, George, The Oxford History of Medieval Europe,  pp., vi, ix.

[10] Martin, C.J.F, An Introduction of Medieval Philosophy,   p.10. McNeill  also put the year of 1000 as the beginning of  vigorous civilization  of the western Europe. See William McNeill, The Rise of  the West, The University of Chicago, Chicago, 1996, p.484.

[11] John Marenbon, Early Medieval Philosophy, Routledge, London, 1991, pp. xvi; 27

[12] Brown noted that in the areas of  Latin west and in the Greek east literary production suffered a crisis between the late sixth and eighth centuries. See Brown, Thomas, The Transformation of the Roman Mediterranean, in George Holmes, ‘Oxford’   p. 52

[13] Marenbon, John, Early Medieval Philosophy, Routledge, London, 1988, p.17.

[14] William R Cook dan Roland B Herzman, The Medieval Worldview, 29-30.

[15] David Knowles, The Evolution of Medieval Thought, New York Random Haouse, 1962, hal. 3-4.

[16] William, The Medieval, 35.

[17] Ibid, 115

[18] Acikgenc, Alparslan, Islamic Science, Towards a Definition, pp.30-31.

[19] McNeill, William, The Rise of  the West,  p.441.

[20] Sharif, M.M., A History of Muslim Philosophy,  vol. II, Low Price Publication,  Delhi, 1995, p.1349.

[21] Leaman, Oliver, An Introduction to Medieval Islamic Philosophy, Cambridge University Press, Cambridge, 1985, p.6.

[22] Brown, Thomas, The Transformation of the Roman Mediterranean, 400-900, in George Holmes, The Oxford History of Medieval Europe, pp.50-51. He also noted that the  remarkable success and the strength of  Islam was  due mainly to their ability “to  evolve an original and durable synthesis”. They took over the more effective and appealing tenets of other faiths and retained viable elements of Graeco-Roman administration and urban culture while maintaining the distinctiveness and vitality of their own culture. See Ibid.,  p. 11.

[23] Alfred Gullimaune, “Philosophy and Theology” in The Legacy of Islam, Oxford University Press, 1948, p.239.

[24] Mozarab was originally Spanish derived from Arabic musta’rab meaning ‘arabized’, or  would-be-Arab,  but the term is used for one who claims to be an Arab without being so. Mikel said that it is originally a pejorative term for  Christian of  Arabic origin living in the medieval Christian kingdom, particularly Toledo.  But  it also refers to a member of Christian congregation in Spain that maintain a modified form of its religion after the Muslim conquest. See  Mikel De Eplaza, Mozarab, An Emblematic Christian Minority in Islamic Andalus, in Salma Khadra Jayyusi, “The legacy of Muslim Spain”, E.J.Brill, Leiden, 1992, pp.149-170. Cf. Webster Comprehensive Dictionary, Trident Press International, 1996, p. 833

[25] Morris, Rosemary, Northern Europe invades the Mediterranean, 900-1200, in George     Holmes, The Oxford,   Ibid.,  pp.194-195

[26] Alparsalan states that world view  is formed in the human mind either through cultural, scientific, religious and speculative idea  by means of education or through conscious effort to acquire knowledge, or through both means.  See Alparsalan Acikgenc,  Islamic Science, p. 15

[27] Jayyusi, Salma Khadra, The Legacy of Muslim Spain, Ibid, pp.1059-1060; Toledo is the most important seat of this activity but in a smaller scale were established in Salerno, Salamanca and Venice. See William McNeill, Ibid., pp. 548-550; For more detail on the process of transformation through translation see  Myers, Eugene A, Arabic Thought and The Western World, Frederick Ungar Publishing co., New York, 1964,  pp.78-130.

[28]  Lihat misalnya, O’Leary, De Lacy,  Arabic Thought and Its Place in History, Routledge & Kegan Paul Ltd, London, 1963.p.viii.

[29] William McNeill, Ibid., p. 418

[30]  Myers, Eugene A, Arabic Thought,    p.132.

[31] Acikgenc, Alparsalan, Islamic Science, pp.14-15.

[32] Peter, F.E. Aristotle and The Arabs, The Aristotelian Tradition in Islam, New York University Press, New York 1968, p.57.

[33] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, Kuala Lumpur: ISTAC, 1993, hal. 134. Buku ini dicetak pertama kali tahun 1978.

About Hamid Fahmy Zarkasyi

Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil, lahir di Gontor, 13 September 1958,. Saat ini menjadi pimpinan Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS),

Check Also

sekularisasi

Deprivatization

Ketika Ahmadiyah ditolak oleh umat Islam Indonesia dan ketika Saksi Jehovah ditolak oleh umat Katholik ...

%d bloggers like this: