Bahaya Kapitalisme sebagai Kebudayaan

Sejalan dengan pandangan hidup Barat modern yang bercirikan rasionalisme, saintifisme, sekularisme dan cara pandang yang empiristis, maka kapitalisme dapata dikatakan sebagai produk dari padangan hidup Barat modern. Salah satu elemen pandangan hidup Barat yang mempengaruhi kapitalisme adalah rasionalisme. Menurut Weber yang menonjol dalam pemikiran kapitalisme adalah semangat kalkulasi rasional (spirit of rational calculation) yang dikembangkan menjadi prinsip-prinsip pengembangan teknologi dan lembaga produsen. Yang terpenting disini bagi Weber adalah semangat entrepeneurship yang merebak ke bidang politik dan kultural. Kapitalisme akhirnya mempengaruhi perkembangan bentuk perusahaan, kepercayaan publik dan birokrasi dunia modern. Tendensi yang rasional ini merupakan ancaman bagi nilai-nilai tradisional. Weber dengan tegas menyatakan:

It might thus seem that the development of the spirit of capitalism is best understood as part of the development of rationalism as a whole, and could be deduced from the fundamental position of rationalism on the basic problems of life. In the process Protestantism would only have to be considered in so far as it had formed a stage prior to the development of a purely rationalistic philosophy.

Ketipan diatas menunjukkan bahwa perkembangan semangat kapitalisme dapat dipahami dengan baik dari perkembangan rasionalisme di Barat, dan yang lebih jelas lagi dari pandangan rasionalisme terhadap problem-problem kehidupan. Protestanisme hanya diperhitungkan sebagai suatu tahapan sebelum berkembangnya filsafat rasionalistis yang murni.

Dari semangat rasionalisme Protestan dan Barat modern itu maka kapitalisme berkembang menjadi sistim ekonomi yang mendunia yang oleh Joseph disebut Capitalist Civilization (Kebudayaan Kapitalis). Dalam Pendahuluan diatas telah disebutkan bahwa asas setiap kebudayaan dan peradaban adalah worldview, maka dari itu kapitalisme adalah kebudayaan dan sekaligus pandangan hidup (worldview). Sebagai suatu pandangan hidup tentu ia mempunyai elemen dan ciri-cirinya tersendiri. Joseph A Schumpeter menyebutkan ciri-ciri kebudayaan kapitalisme sejalan dengan ciri-ciri rasionalisme Barat, sbb:

1) Adanya pemikiran atau perilaku individu yang rasional yang berkembang menjadi pemikiran kolektif yang mengkritisi berbagai pihak termasuk kekuasaan politik dan agama. 3) Kapitalisme juga berkembang menjadi cara pandang masyarakat terhadap alam semesta, tentang kehidupan, tentang arti keadilan, konsep keindahan, kesehatan, filsafat hidup dan lain-lain 4) Kapitalisme merupakan sikap terhadap sains modern, manusia modern dan cara-cara sains modern dikembangkan. Dari sikap hidup ini kemudian timbul seni kapitalis (capitalis art) dan gaya hidup kapitalis (capitalist style of life). 5)  Oleh karena pengaruh rasionalisasi perilaku dan pemikiran maka rasionalisasi juga mempengaruhi sikap mereka terhadap kepada kepercayaan metafisis, mistik dan ide-ide yang lain sehingga semua itu akan mengasah metode dalam mencapai tujuan akhir. 6) Kebebasan berfikir dan memandang dunia secara pragmatis terjadi secara alami.

Selain dari yang diungkapkan Joseph diatas masih terdapat ciri-ciri lain dari kapitalisme yang menyangkut cara pandang terhadap realitas. Ciri itu adalah doktrin universalisme, yaitu kepercayaan bahwa disana terdapat pernyataan umum tentang dunia fisik dan sosial yang benar secara universal dan permanent. Tujuan sains adalah mencari pernyataan ini sehingga dapat menghilangkan apa yang selama ini disebut subyektif. Universalisme ini kemudian menjadi keyakinan (faith) dan juga epistemologi dan puncaknya adalah ideologi (kapitalisme). Untuk itu kapitalisme menggunakan universitas sebagai tempat workshop ideologi dan singgasana kepercayaan itu, selain sebagai tempat mencari kebenaran itu. Dan sejalan dengan sistim ekonomi kapitalis, Amerika yang menganut liberalisme berpendirian bahwa kebenaran hanya dapat diketahui dari hasil interaksi dalam pasar bebas bagi ide-ide (free market-place of ideas).

Selain itu ketika ekonomi dunia kapitalis disebar luaskan ada beberapa aktifitas yang ikut serta didalamnya, seperti Kristenisasi, pemaksaan penggunaan bahasa Eropah, pengajaran tentang teknologi tertentu, perubahan undang-undang dan lain-lain. Sistim kapitalis ini seringkali disebarkan melalui kekuatan militer atau lewat persuasi terhadap pemimpin yang didukung oleh militer. Keseluruhan proses penyebaran sistim ini oleh Emmanuel Wallestein yang disebut “westernisasi” atau lebih arogan lagi mereka klaim “modernisasi”  yang dibumbui dengan kepercayaan pada ideologi universalisme tersebut diatas. Globalisasi merupakan proyek lain dan sangat menguntungkan kapitalisme. Kapitalisme lebih kuat dari sistim ekonomi non-kapitalis, sebab ia mempunyai sarana dan strategi yang kuat untuk menjadikan sistim pasar itu universal. Jadi globalisasi menurut Gibson-Graham adalah tindak kekerasan yang berakhir dengan pembunuhan bentuk ekonomi selain kapitalisme. Gaya hubungan sosial dan ekonomi kapitalis didesain agar dapat masuk kedalam sistim sosial dan ekonomi lain, tapi tidak sebaliknya.

Alasan yang sering digunakan adalah efisiensi ekonomi, tapi pada saat yang sama menyebarkan norma-norma kultural baru dan menggeser kultur tradisional yang menjadi saingannya.  Norma-norma atau konsep baru yang dibawa kapitalisme itu adalah demokrasi liberal, kebebasan sipil, kebebasan berpolitik dan kesempatan ekonomi bagi setiap warganegara.

 

About Hamid Fahmy Zarkasyi

Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil, lahir di Gontor, 13 September 1958,. Saat ini menjadi pimpinan Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS),

Check Also

filsafat islam3

Respon Cendekiawan Muslim Terhadap Filsafat

Mengaitkan filsafat Islam dengan Yunani secara berlebihan justru menunjukkan kerancuan yang fatal. Sebab konskuensi logisnya ...

%d bloggers like this: