Dari WTC ke Liberalisasi

Sekitar pukul 10 pagi, tanggal 11 September 2001 terjadi peristiwa yang menggemparkan dunia. Dua pesawat komersil menghantam menara kembar WTC di New York. Dua gedung yang menjadi lambang ekonomi Amerika itu dengan sekejap mata rata dengan tanah. Dan dalam sekejap pula disimpulkan itu adalah kerja teroris Muslim yang dipimpin oleh Usama bin Ladin.

Setelah peristiwa dramatis itu puluhan buku terbit. Intinya menegaskan Barat kini menghadapi terorisme dan itu dari kalangan umat Islam. Teori Huntington akan terjadinya “clash of civilization” terbukti oleh peristiwa itu.

Bahkan karena terlalu besar keinginan George W. Bush (Presiden AS) menjadikan Islam musuh Barat ia anggap peristiwa itu sebagai “Perang Salib” baru (new crusade). Tapi ia pun segera ditegur banyak orang.

Isunya pun melebar dan mendalam. Melebar karena yang dituduh musuh peradaban Barat postmodern ternyata bukan hanya Islam tapi agama-agama. Mendalam sebab kajiannya tidak hanya mencari siapa yang menjadi teroris tapi mengapa mereka bisa menjadi teroris.

Lebih praktis lagi bagaimana pula merubah cara beragama umat manusia, khususnya Islam agar tidak bertentangan dengan Barat. Dan inilah sebenarnya target atau output yang diharapkan dari peristiwa itu.

Nalar para pemikir Barat terus menggelinding. Namun, pembahasan tentang peristiwa itu sendiri tidak banyak dilakukan. Banyak analisa di seputar peristiwa dramatis itu yang diantara intinya menolak bahwa peristiwa itu dilakukan oleh umat Islam tidak mendapat perhatian yang serius.

Dan yang mengungkap kebenaran dibalik peristiwa itu adalah dua buah video terbitan Amerika sendiri. Yang pertama berjudul Confronting the Evidence, a Call to Reopen, the Sept, 11, Investigation dan kedua Loosing Change, directed by Dylan Avery. Dalam kedua video itu para pakar bangunan, politik, jurnalis dan analis politik dilibatkan.

Ada beberapa fakta disampaikan disitu, diantaranya:

Pertama, Bahwa gedung WTC itu tidak mungkin meledak dan rata dengan tanah hanya karena ditabrak pesawat, sebab satu pesawat yang menabrak Pentagon tidak menghancurkan.

Kedua, Menurut pakar bangunan bertingkat kecepatan WTC runtuh hingga rata tanah adalah 10 detik, padahal biasanya bangunan yang diledakkan hingga rata dengan tanah memakan waktu 15 detik.

Ketiga, Bangunan beton bertingkat tidak hancur dan rata dengan tanah hanya karena terkena benturan keras, pasti ada ledakan dahsyat dari dalam gedung itu.

Keempat, Jam 4 dini hari ada yang menyaksikan gedung itu sudah mengeluarkan asap.

Kelima, Tiga bulan sebelum terjadi peristiwa itu Colin Powel bertemu Usama bin Ladin di Bahrain, namun, menurut pembicara disitu tidak seorang pun tahu apa yang dibicarakan mereka berdua.

Kelima, Tidak lebih dari 24 jam seluruh media Barat sudah memuat gambar Usama bin Ladin, seperti sudah dipersiapkan sebelumnya.

Di akhir video, yang menjadi MCnya menyimpulkan bahwa dari uraian para pakar sebelum itu dapat dikatakan bahwa yang berada di balik peristiwa itu adalah George W. Bush dan Usama bin Ladin.

Pada video pertama terdapat gambar pesawat yang akan menabrak WTC dan dibawahnya tertulis “What is that attached to the Bottom of the Plane?” (Apa yang nempel pada bagian bawah pesawat?).

Sedangkan pada video kedua terdapat beberapa komentar tokoh diantaranya : “This is the best damn 9-11 documentary out here”; “If you don’t win an award for this, there is something seriously wrong”.

Diatas komentar itu penerbitnya menulis: This film shows direct connection between the attack of September 11, 2001 and the United States government. Evidence is derived from news footage, scientific fact, and most important, American who suffered through that tragic day”. (Film ini menunjukkan hubungan langsung antara serangan 11 September 2001 dengan pemerintah Amerika Serikat. Bukti-buktinya diambil dari rekaman berita, fakta-fakta ilmiah, dan yang terpenting orang-orang Amerika yang menderita karena hari yang tragis itu).

Setelah peristiwa dramatis 11 September 2001 itu negara-negara Islam dicurigai sebagai sarang teroris, termasuk Indonesia. Untuk menghadapi itu selain melalui pendekatan militer dan keamanan, diterapkanlah proyek liberalisasi.

Di Indonesia, gerakan liberalisasi pemikiran Islam terasa sangat intens dan serius. Penyebaran wacana-wacana tentang Islam dan pemikiran keislaman yang terdengar “aneh” dan “asing” ditelinga para ulama dan cendekiawan Muslim itu dilakukan melalui media surat kabar, majalah, media elektronik baik radio maupun televisi, dan penerbitan buku-buku.

Motornya adalah LSM-LSM, kelompok-kelompok studi, pusat studi yang sama sekali “baru”, baik dari kalangan intelektual muda, lapisan muda ormas Islam serta mahasiswa di kampus-kampus, khususnya kampus perguruan tinggi Islam. Yang lebih terasa aneh lagi, gerakan ini telah mampu merekrut tokoh-tokoh agama, para profesor, cendekiawan Muslim maupun non-Muslim dan tokoh-tokoh masyarakat akademis.

Bagi yang berpikir jernih dan tulus akan segera menangkap bahwa gerakan ini lebih mirip gerakan sosial politik ketimbang wacana keilmuan biasa.

Sebab di kalangan mudanya gairah mengkritik dan memperburuk sahabat, ulama, sejarah Islam, tradisi, aqidah, hukum-hukum syariat yang baku, al-Qur’an mushaf Usmani, ilmu Tafsir dan sebagainya dalam Islam sangat tinggi bahkan seperti sebuah kemarahan dan kebencian yang ekstrim.

Disisi lain semangat mahasiswa di perguruan tinggi Islam untuk mengkaji pemikiran filosof dan ilmuwan Barat mengalahkan antusiasme kajian pemikiran Islam.

Di kalangan dosen afirmasi terhadap paham-paham pluralisme, feminisme dan gender, konsep masyarakat sipil (civil society) dan teori hermeneutika, yang merupakan tonggak-tonggak pemikiran postmodern dan liberalisme tersebar di berbagai perguruan tinggi Islam.

Selain sikap kritis terhadap Islam dan afirmatif terhadap paham postmodernisme, “ghirah” membela dan mempertahankan pemikiran liberal itu seperti membela sebuah ideologi.

Sebagian orang ada yang menganggap gerakan ini sebagai pubertas intelektual. Sebagian yang lain lagi mengklaim sebagai gerakan pembaharuan pemikiran Islam oleh cendekiawan muda.

Namun, ternyata gagasan ini bukan berasal dari anak-anak muda yang mengalami pubertas intelektual. Greg Barton menelusuri tren pemikiran ini dan mengidentifikasinya sebagai pemikiran “Islam Liberal” yang tokoh-tokohnya adalah cendekiawan Muslim yang tidak muda lagi.

Dan jika dikaji lebih mendalam dan serius lagi, akan ditemukan bahwa ide-ide yang disebut “Islam Liberal” itu mempunyai kaitan erat dengan paham liberalisme yang muncul di Barat awal abad modern dan kini semakin mengkristal dalam pemikiran Barat postmodern.

Akan tetapi mengidentifikasi pola pikir liberal seorang tokoh yang telah memiliki kualifikasi akademis memang tidak sederhana. Metodologi berpikir atau framework serta konsep-konsep yang mereka gunakan harus diuji secara ilmiah.

Apakah semua itu masih sejalan dengan apa yang terdapat dalam tradisi intelektual Islam atau bertentangan?. Apakah di dalamnya terdapat kerancuan-kerancuan konseptual?. Dan apakah pandangannya berimplikasi pada dekonstruksi pada teologi dan epistemologi Islam?

Kajian terhadap wacana para tokoh liberal menunjukkan, Pertama, Bahwa metodologi, framework, konsep dan teori yang mereka gunakan itu terbukti bertentangan secara diametris dengan apa yang telah ada dalam tradisi intelektual Islam. Kedua, Kajian lebih lanjut menunjukkan adanya korelasi antara tren pemikiran liberal para tokoh cendekiawan Muslim dengan tren pemikiran di Barat untuk mewujudkan masyarakat sipil (civil society).

Konsep-konsep seperti pluralisme, multikulturalisme, kesetaraan gender, feminisme, demokratisasi, humanisme, kebebasan, hak asasi manusia ternyata memenuhi wacana para cendekiawan Muslim liberal. Skripsi, Thesis dan Disertasi di perguruan tinggi Islam ditulis untuk mencari justifikasi Islam terhadap konsep-konsep tersebut. Puluhan buku diterbitkan hanya untuk menjelaskan kedekatan Islam dengan ide-ide, konsep dan sistem masyarakat sipil (civil society) di Barat.

Mungkin alasan mereka karena konsep masyarakat sipil seperti di Barat yang sekuler dan liberal itu tidak terdapat dalam Islam, sedangkan Islam harus ikut berpartisipasi dalam wacana kontemporer itu, maka upaya mudah yang mereka lakukan adalah mem-Barat-kan Islam, men-sekular-kan Islam atau me-liberal-kan Islam.

Caranya adalah dengan membaca, menafsirkan dan menganalisa Islam dengan menggunakan metode dan teori ilmu-ilmu humaniora dari Barat. Atau yang sederhana mencari ayat-ayat dan hadis-hadis yang dapat ditafsirkan sesuai dengan paham Barat itu, atau menyesuaikan Islam dengan paham Barat.

Anthony Chase dalam sebuah artikel berjudul Liberal Islam and ‘Islam and Human Right’: A Sceptic’s View (Religion and Human Right I: p. 145-163 mengomentari tokoh liberal Abdullahi An-Naim bahwa “He works specifically within a human right framework, attempting to reconcile it to Islam”. Benar, yang jelas An-Naim kini berada di Barat dan sedang menjalankan proyek ini.

Bukan hanya Muslim yang berupaya meliberalkan diri, tapi pihak Barat sendiri memang sengaja melakukan liberalisasi pemikiran Muslim.

Charles McDaniel, dalam artikelnya berjudul Islam and Global Society: a Religious Approach to Modernity, (Brigham Young University Law Review, vol. 536, 2003, 507), menyatakan bahwa perbedaan kultural antara Islam dan Barat terlalu besar untuk dijembatani hanya dengan penyebaran materi dan export konsepsi liberal tentang HAM (by the simple expansion of material affluence and the export of liberal conception of human rights).

Artinya, liberalisasi pemikiran Islam memang diakui ada dengan dana besar, tapi itu masih belum cukup untuk mem-Barat-kan Islam. Slavoj Zizek, seorang profesor Hegelian dan Marxist di The New York Times memberi usulan yang lebih dahsyat lagi:

Hari ini, ketika agama muncul sebagai sumber kekerasan yang membunuh di seluruh dunia… Bagaimana jika kehebatan ateisme-salah satu warisan Eropa terbesar dan mungkin hanya satu-satunya peluang untuk perdamaian- dihidupkan kembali.

Gagasan Zizek nampaknya bukan bersifat pribadi, tapi boleh jadi mewakili komunitas tertentu yang termakan oleh promosi media Barat yang anti agama melalui stigmatisasi pada terorisme.

Tidak mustahil jika gagasan mengangkat paham ateisme itu ikut gerbong gerakan liberalisasi pemikiran Islam yang jelas-jelas dibiayai oleh foundation-foundation di Barat. Entah bagaimana model transmisinya, yang pasti di Indonesia umat Islam dikagetkan oleh ekspresi-ekspresi ateistik anak-anak muda liberal seperti “Anjinghu akbar”, “Kampus bebas tuhan”, “Tuhan adalah ateis”, “Tuhan adalah tiran” dan sebagainya adalah pengaruh dari gagasan itu.

Dari gagasan diatas maka proyek liberalisasi pemikiran yang sedang diterapkan di dunia Islam saat ini bermacam-macam dengan strategi yang digunakan berlapis-lapis.

Intinya adalah untuk menciptakan masyarakat sipil (civil society) yang di dalamnya diterapkan paham-paham seperti yang disebutkan diatas yaitu pluralisme, feminisme dan kesetaraan gender, demokrasi, humanisme, sekularisme dan kebebasan (liberalisme).

Diantara tokoh-tokoh liberal di dunia Islam yang menjadi rujukan kalangan akademis adalah di Indonesia misalnya Nasr Hamid Abu Zayd (Studi al-Qur’an), Muhammad Syahrur (Hukum Islam), Muhammad Arkoun (Studi Qur’an) dan Syed Hossein Nasr (Pluralisme), Aminah Wadud, Asghar Ali, Fatimah Mernisi, (Feminis), Abdullahi Ahmad an-Naim (politik) dan sebagainya.

Tergolong liberal karena upaya mereka, untuk membongkar aspek teologi dan epistemologi Islam ke akar-akarnya sehingga dapat merubah keyakinan umat terhadap kitab suci, Nabi dan hadis Nabi, hari akhir, otoritas ulama, dan lain-lain.

Diantara proyek liberalisasi pemikiran Islam yang dilakukan oleh tokoh-tokoh cendekiawan Muslim adalah merubah penafsiran terhadap al-Qur’an. Inilah yang dilakukan diantaranya oleh Nasr Hamid Abu Zayd, Muhammad Syahrur, Muhammad Arkoun dan lain-lain.

Proyek liberalisasi pemikiran Islam yang lain adalah pluralisme agama. Paham ini juga dipengaruhi oleh doktrin nihilisme, relativisme dan equality postmodern. Dari Paham ini kini muncul istilah Islam inklusif, Islam pluralis dan sebagainya. Diantara konsep yang mendukung paham ini adalah paham Global Theology atau World Theology dan Transcendent Unity of Religion (TUR).

Selain pluralisme adalah feminisme dan kesetaraan gender. Diantara strateginya adalah dengan menyebarluaskan wacana ini dari media massa hingga wacana akademik. Hasilnya kini di berbagai perguruan tinggi dibentuk Pusat Studi Wanita (PSW) dimana wanita justru menjadi obyek kajian, sesuatu yang selama ini mereka protes.

Strategi lainnya adalah dengan menjadikan kesetaraan gender sebagai neraca kemajuan, sehingga PBB pun mempunyai standar kemajuan suatu Negara berdasarkan ukuran GDI (Gender Development Index).

Karena ukuran itu maka kini disyaratkan agar supaya 20% anggota dewan perwakilan rakyat berasal dari wanita. Namun hal itu tidak dapat tercapai karena memang tuntutan itu bukan tuntutan riil di masyarakat, khususnya Negara-negara Islam.

Jika dianalisis secara teoritis kita dapat kaitkan penyebaran konsep, teori dan sistem dalam bentuk wacana itu dengan teori Michel Fucoult tentang ilmu dan kekuasaan.

Menurutnya, ilmu selalu merupakan kekuasaan dan ketika digunakan ia akan mengatur perilaku orang lain, mengikat dan menjadi aturan yang mendisiplin. (Foucault. Discipline and Punishment, London, Tavistock, 1977, hal. 27.).

Ternyata teori Fucoult benar, kini perilaku dan pemikiran Muslim seakan telah diikat oleh wacana-wacana itu dan seperti tidak bisa menolak. Wacana-wacana itu sudah seperti keharusan sosial. Jika dianalisis secara politis kita dapat kaitkan dengan tulisan David E Kaplan, Hearts, Minds and Dollars (www.usnews.com diakses pada 4-25-2005), bahwa: ”Washington berinvestasi puluhan juta dolar dalam kampanye untuk mempengaruhi bukan saja masyarakat Islam, tapi juga Islam sendiri dan apa yang terjadi dalam Islam”.

Karena cara-cara orang liberal mempengaruhi masyarakat Islam itu melalui wacana-wacana dan gerakan keilmuan melalui media masa atau kajian serius di kampus-kampus atau melalui buku-buku, maka Muslim perlu mengkonter melalui medan yang serupa.

Mereka seringkali menuduh keimanan umat Islam pada Islam sebagai penyucian pemikiran keagamaan atau dalam istilah mereka taqdis afkar dini, padahal pada saat yang sama mereka mengimpor pemikiran Barat tanpa proses keilmuan yang memadai dan dapat juga kita namakan sebagai penyucian pemikiran Barat atau taqdis afkar al-gharbi. Untuk itu Muslim juga perlu tahu bagaimana sebenarnya paham-paham di Barat yang dibanggakan oleh orang liberal itu.

About Hamid Fahmy Zarkasyi

Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil, lahir di Gontor, 13 September 1958,. Saat ini menjadi pimpinan Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS),

Check Also

filsafat islam

Asal Usul dan Substansi Filsafat Islam

Pada umumnya para orientalis, dengan beberapa pengecualian, sependapat bahwa geneologi filsafat dalam Islam harus dilacak ...

%d bloggers like this: