Desakralisasi Teks

Jika banyak orang melihat sekularisme sebagai suatu aliran pemikiran di Barat, al-Attas dengan tajam dan jeli menyimpulkan bahwa itu adalah program filsafat. Program itu oleh Weber disarikan menjadi tiga elemen utama: Pengosongan alam dari nilai (Disenchantment of nature), Penafian nilai (Deconsecration of value), dan Desakralisasi politik (desacralization of politic).

Inti dari ketiga elemen ini adalah desakralisasi segala sesuatu. Artinya tidak ada yang suci dan tidak perlu ada yang disucikan di dunia ini, termasuk segala aspek dalam agama.

Ketika ide desakralisasi itu masuk dalam wacana pemikiran Islam, yang pertama menjadi sasaran adalah teks al-Qur’an. Alasannya “pensakralan teks” itu menyebabkan umat terkungkung dalam lingkup (boundary) yang sempit dan kadang-kadang sulit untuk keluar dari lingkup tersebut.

Konon ini merujuk kepada kata-kata Muhammad Al-Ghazzali dalam bukunya Kaifa Nata’amal Ma’a al-Qur’an. Tapi sebenarnya maksud al-Ghazzali itu diplintir untuk sebuah kepentingan. Dan apa yang dimaksud sakralisasi teks pun tidak jelas.

Wacana ini sebenarnya merupakan rajutan antara realitas pemikiran Islam dan postmodernisme. Suatu asimilasi yang lucu dan menyesatkan, sebab Islam berangkat dari yang absolute (Wahyu/Allah), melalui jalan metafisika yang jelas sedangkan Postmodernisme berangkat dari penafian yang absolute dan penolakan metafisika.

Cikal bakal Postmodernisme dapat dilacak dari doktrin nihilisme-nya Nietsche atau Heiddeger yang melahirkan statement “God is dead”. Konsekuensi logisnya adalah bahwa God was no longer Supreme Being, but collective reason, God exist within human intelligence. (Alain Finkielkraut, 1995).

Maka dari itu menurutnya ketika metafisik mencapai kebenaran yang dianggap sebagai dari Tuhan (absolute) sebenarnya tidak lain hanyalah sesuatu yang sobyektif yang boleh jadi salah seperti mana suatu pendapat atau kepercayaan. “Kalau kita menolak kesalahan maka kita juga harus menolak kebenaran” kata Nietsche.

Ide nihilisme ini kemudian berkembang menjadi apa yang disebut “Philosophy of Difference”. Doktrinnya: Perbedaan antara benar dan salah, rasional dan irrasional harus dipisahkan dari bahasa atau konsep, artinya semua apa yang kita alami tidak lain hanyalah “Penafsiran”.

Segala sesuatu yang berbeda-beda di dunia ini selalu dapat “ditafsirkan” kedalam terma-terma yang dihasilkan oleh nilai-nilai sobjektif dalam diri kita. Ringkasnya, ide ini berkembang menjadi apa yang disebut sekarang dengan “Hermeneutic” (Filsafat Tafsir). Nihilisme dan Hermeneutic tidak jauh berbeda karena keduanya menawarkan konsep relativitas.

Ernest Gelner penulis Buku Postmodernism, Reason and Religion, mengatakan ciri-ciri Postmodernisme dapat diketahui dari statement bahwa: “Segala sesuatu adalah teks, materi dasar teks, termasuk masyarakat atau apapun juga, adalah arti, dan arti-arti itu harus didekonstruksikan, pernyataan tentang realitas objektif harus diragukan.”

Arti dekonstruksi yang dimaksud Derrida adalah bahwa dalam mendekati suatu teks kita harus skeptis dan maksud penulis teks tidak perlu diutamakan, yang ada hanyalah kesempatan untuk menafsirkan atau mengomentari teks secara tanpa ada batasan. Ide ini tidak saja cocok dengan doktrin relativisme tapi yang penting adalah Penolakan Kebenaran Transendental (termasuk disini adalah kebenaran adanya Tuhan).

Atas dasar latar belakang doktrin-doktrin Postmodernisme itulah kalangan liberal mencoba manawarkan dekonstruksi tafsir Jihad. Tapi sebelum menerapkan doktrin Postmodernisme ini kedalam Islam, terlebih dahulu Muslim liberal menggiring kita kepada konklusi tentang perlunya menerapkan doktrin dekonstruksi Derrida dengan mengenalkan kita pada premis-premis yang cukup mengejutkan:

  1. Bahwasannya umat Islam seringkali mempraktekkan Jihad sebagai perang suci (Holy War) atas nama agama dan Tuhan.
  2. Bahwa studi hukum Islam menampilkan sikap kejam sehingga berakibat pada sakralisasi teks. Hukum Islam dulunya adalah relatif, kini diperlakukan sebagai sakral dan absolute.

Kedua premis sering kita dengar keluar dari mulut orientalis. Perang atas nama Agama seakan-akan dianggap sebagai naive dan sektarian, padahal dari dulu sampai kapanpun perang dalam Islam harus atas nama Agama dan Tuhan atau berdasarkan perintah Tuhan.

Istilah Holy War itu yang paling ditakuti Barat sehingga melahirkan cap kejam pada Islam, image bahwa Islam identik dengan perang suci, fundamentalis, terorisme, kekerasan dan lain-lain.

Sebagai seorang Mukmin sebaiknya kita memahami Qital atau Jihad al-Asghar seperti apa yang dipraktekkan Nabi. Itulah perintah-perintah yang ada. Perang-perang yang dipraktekkan Rasulullah bukanlah semata-mata dilihat dari nilai historis belaka, tapi adalah aplikasi suatu ketaatan pada teks (wahyu) yang absolut. Meskipun tidak menafikan bahwa jihad intelektual memiliki maqam yang lebih tinggi.

Jadi menurut pendapat penulis premis-premis diatas sudah tidak benar, bagaimana dapat dipakai untuk menggiring kepada perlunya menggunakan doktrin dekonstruksinya Derrida ?

Selanjutnya, apabila jalan keluar yang ditawarkan adalah dekonstruksi tafsir Jihad, maka al-Qur’an diletakkan sebagai teks yang harus diragukan atau dipertanyakan. Tidak peduli bagaimana sejarah teks tersebut dan bagaimana otentisitasnya.

Cara lain untuk meragukan teks adalah dengan menganggap al-Qur’an sebagai representasi kalam Tuhan melalui bahasa Arab dan akal pikiran Nabi. Representasi kalam Tuhan berarti bukan kalam Tuhan yang sesungguhnya. Al-Qur’an dianggap sebagai sabda Nabi berdasarkan kreatifitas dan akal pikiran beliau.

Apalagi jikalau teks itu dianggap representasi berarti apa yang menjadi objek bukanlah al-Qur’an, sebab representasi bukanlah presentasi (kehadiran) dan al-Qur’an tidak dapat dianggap sebagai representasi, karena ia adalah presentasi. Disini orang-orang liberal salah paham terhadap makna teks dalam konsep Derrida.

Dengan mengikuti doktrin Postmodernisme kaum liberal menjadikan al-Qur’an sebagai open text dan dapat ditafsirkan oleh siapa saja tanpa batasan. Dalam perkataan mereka yang tidak bertanggung jawab, “Tafsir ayat al-Qur’an adalah sebanyak kepala manusia di dunia”.

Padahal para ulama tafsir yang telah memenuhi persyaratan keilmuan yang cukup untuk menafsirkan hingga kini tidak sampai menghasilkan seratus kitab tafsir. Apalagi seribu, sejuta atau semilyar tafsir.

Memang dalam doktrin postmodernisme yang relativistik dan nihilistik otoritas dihapuskan, dan maksud asli suatu teks (maqasad al-nash) dihilangkan tidak perlu diutamakan. Untuk itu maka semua makna harus dibongkar dimaknai ulang.

Jika ini terjadi pada al-Qur’an maka siapa yang akan menjadi penafsirnya. Kalau semua orang boleh menafsirkan, tanpa sumber otoritas, lalu apa gunanya Nabi dan Ulama sebagai pewarisnya?, Padahal struktur ilmu pengetahuan Islam dan otoritas penafsiran teks ada pada Nabi dan para ulama (al-rasikhun fii al-ilmi), baik ulama klasik atau kontemporer. Karena itu sakralitas teks adalah suatu kemestian dan sekularisasi atau merelativekan teks adalah suatu kerancuan.

Kalau Foucaoult mengatakan “tidak ada pengetahuan yang bebas dari kekuasaan” sebenarnya dapat diislamkan dengan “tidak ada pengetahuan yang bebas dari kekuasaan Tuhan”, “tidak ada pengetahuan yang bebas dari nilai”.

Bagi seorang muslim kepentingan dalam pengetahuan adalah ibadah. Adapun kalau ada individu-individu yang jauh dari al-haq lalu membelokkan pengetahuan untuk kepentingan tertentu, itu terlepas dari ilmu pengetahuan Islam. Tapi kalau kepentingan adalah masalah besar, bukankah postmodernisme sendiri bias dengan kepentingan?

Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa konsep jihad dapat ditafsirkan dengan orientasi keadilan dan kebenaran. Caranya adalah dengan memahami teks itu sendiri sesuai dengan maknanya yang benar.

Adil adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya/proporsinya. Kita tidak bisa meletakkan sesuatu pada tempatnya jika kita tidak tahu ilmu tentang sesuatu itu dan bagaimana meletakkan sesuatu secara benar dan tepat. kita tidak akan dapat mengorientasikan “Jihad Intelektual” kepada kebenaran kalau kita tidak mengetahui ilmu untuk menuju kebenaran itu.

Kalau ingin membawa tafsir jihad supaya lebih toleran, pertanyaannya adalah apa dasar toleransi itu? karena kepentingan nasional, kepentingan kerukunan beragama, kepentingan keselamatan masyarakat atau apa?

Benar jihad intelektual lebih mulia ketimbang jihad fisikal, tapi perlu diingat bahwa qital memerangi orang yang memerangi Islam dan umatnya tidak dapat dihapuskan karena kemuliaan jihad intelektual.

Walaupun Nabi tidak pernah melarang orang berperang dan menggantikannya dengan jihad intelektual. Masing-masing amal memiliki maqamnya sendiri-sendiri. Bahkan pengusaha yang jujur dan saleh adalah sejajar dengan syuhada dan siddiqin. Tapi nabi tidak lantas menyuruh semua orang berbisnis secara jujur dan meninggalkan amal yang lain.

Walhasil, sekarang dengan tanpa mengecilkan dan menafikan adanya jihad secara fisik, bagi kalangan umat Islam tertentu adalah berjihad secara intelektual adalah penting. Jihad intelektual yang sangat urgen sekarang ini adalah memerangi pemikiran-pemikiran yang “menyesatkan”, memerangi syirik intelektual, memerangi deviasi-deviasi pemahaman din, memerangi keraguan, dan memberi pencerahan dengan merujuk kepada al-Qur’an dan hadis untuk dipahami dalam konteks zaman sekarang.

About Hamid Fahmy Zarkasyi

Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil, lahir di Gontor, 13 September 1958,. Saat ini menjadi pimpinan Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS),

Check Also

substansi peradaban islam

Substansi Peradaban Islam

Makna Peradaban Islam Islam yang diturunkan sebagai din, sejatinya telah memiliki konsep seminalnya sebagai peradaban. ...

%d bloggers like this: