Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi: Aktif Kritik Pemikiran Islam Liberal

Nama Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi mulai banyak dikenal oleh para sarjana Indonesia, khususnya mereka yang bergelut dengan bidang pemikiran Islam. Lewat Institut for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) yang didirikan bersama sejumlah intelektual muda Muslim, pria kelahiran Gontor, 13 September 1958 melakukan gebrakan menghalau laju pemikiran-pemikiran Islam liberal yang sedang dijajakan oleh para pengekor orientalis.

Pemikiran Islam

Bagi Gus Hamid — sapaan akrab koleganya di INSISTS—bergelut dibidang pemikiran Islam bukanlah hal yang baru. Dengan berlatar belakang pesantren modern, ia telah mengenal banyak pemikiran-pemikiran Islam. Ia merupakan putra ke-9 dari KH Imam Zarkasyi, pendiri Pesantren Modern Gontor Ponorogo. Seusai menamatkan pendidikan di pesantren modern, ia melanjutkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi luar negeri. Gelar doktornya ia tempuh di International Institute of Islamic Thought and Civilization- International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) Malaysia (2006)dengan disertasi yang berjudul ‘Al-Ghazali’s Concept of Causality’.

Bidang pemikiran Islam tetap menjadi fokus Gus Hamid setamat meraih gelar doktor. Guna menghadapi laju pemikiran yang diusung oleh kelompok Islam Liberal, ia bersama koleganya di INSISTS mendirikan sebuah majalah pemikiran Islam yang bernama ISLAMIA. Ia menjabat Pemimpin Redaksi sekaligus direktur INSISTS.

Di majalah ISLAMIA, pemikirannya tertuang dalam rubrik melalui rubrik Prolog dan Epilog. Terkadang menulis artikel panjang.  Selain itu, Gus Hamid juga aktif menulis artikel opini di sejumlah media massa, seperti Republika, Majalah Azzikra, maupun Suara Hidayatullah.

Sejak tahun 2009, Gus Hamid aktif menulis kolom Misykat di Jurnal Islamia (sebuah jurnal kerjasama INSISTS dengan Republika). Dalam Misykat, ia kerap membuat catatan kritis seputar pemikiran Islam yang diusung oleh Kelompok Isla Liberal. Gagasan-gagasannya tentang de-sekularisasi, de-westernisasi, dan Islamisasi, secara konsisten mewarnai berbagai tulisannya.

Kolom yang ditulis secara khas lugas,cerdas dan bernas ternyata tercatat sebagai sebagai kolom yang paling diminati pembaca Republika ( hal ini berdasarkan Survei Litbang Harian Republika tahun 2010 yang menunjukkan, Jurnal Islamia-Republika, merupakan rubrik non-berita yang paling banyak dibaca oleh pembaca Republika).

Kini kolom-kolomnya yang ditulis selama 3 tahun (2009-2012) telah diterbitkan menjadi sebuah buku yang berjudul Misykat : Refleksi Tentang Islam, Westernisasi & Liberalisasi. Saat jumpa wartawan, Gus Hamid menegaskan bahwa buku membangun kesadaran umat Islam agar mengerti akan ancaman dari bahaya liberalisme, sekulerisme hingga westernisasi.

Melalui Misykat, Gus Hamid akan terus mengkritisi dunia pemikiran Islam yang berlumur kontaminasi pemikiran liberal seperti pluralisme agama, bukan serupa toleransi yang telah dimiliki bangsa Indonesia saat ini. “Umat Islam lahir dalam masyarakat plural. Toleransi terbaik di dunia ada di Indonesia. Dan mayoritasnya Islam. Jadi Orang Islam paling toleran dibanding umat agama lain,” tegasnya.

Pluralisme, gender, feminisme, serta gelombang pemikiran dan kebudayaan ini dinilainya harus dihadapi dengan gelombang pemikiran yang menyelamatkan dari efek elemen asing yang memarjinalkan Islam sebagai budaya bermartabat.

Peradaban Islam

Tema kajian yang digeluti Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini  selain pemikiran Islam adalah Peradaban Islam. Ia berkeyakinan bahwa umat Islam akan mampu kembali membangun peradaban Islam. Diberbagai kesempatan baik dalam artikel di media massa maupun forum seminar, ia kerap melontarkan gagasan kembalinya Peradaban Islam.

Untuk memperjelas gagasan tersebut, putra pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor ini menuangkannya dalam sebuah buku yang berjudul Peradaban Islam: Makna dan Strategi Pembangunannya.

Dibagian awal bukunya, Gus Hamid mengupas makna peradaban Islam dan perkembangannya. Menurutnya, Islam sebagai din sejatinya telah memiliki konsep seminal sebagai peradaban. Artinya, dalam istilah din itu tersembunyi suatu sistem kehidupan. Dari kata ini lahir istilah madinah dan dari kata ini pula lahir kata benda tamaddun yang secara literal berarti peradaban. Oleh karena itu, Islam sebagai din tidak bisa hanya dipandang sebagai sekumpulan ritual keagamaan saja tapi sebuah sistem kehidupan yang teratur dan bermartabat yang dapat melahirkan sebuah peradaban yang khas, atau kemudian dikenal sebagai peradaban Islam.

Dengan mengutip Ibnu Khaldun, doktor lulusan ISTAC Malaysia ini menjelaskan bahwa substansi yang terpenting dari wujudnya peradaban adalah berkembangnya ilmu pengetahuan.

Cikal bakal konsep ilmu pengetahuan dalam Islam adalah konsep-konsep kunci dalam wahyu yang ditafsirkan ke dalam berbagai bidang kehidupan dan akhirnya berakumulasi dalam bentuk peradaban yang kokoh. Dan perlu dicatat bahwa tradisi intelektual dalam Islam juga memiliki medium transformasi sejak awal sekali dalam bentuk institusi pendidikan yang disebut al-Suffah dan komunitas intelektualnya disebut Ashab al-Shuffah. Dari sinilah dan dari murid-murid ashab al-Suffah kemudian lahir generasi ulama dan cendekiawan, baik kalangan sahabat dan tabi’in yang ahli dalam berbagai disiplin ilmu.

Menurut Gus Hamid, poin terpenting membangun kembali peradaban Islam harus dimulai dari pengembangan ilmu pengetahuan Islam. Di samping itu, perubahan masyarakat sangat ditentukan oleh ide dan pemikiran para intelektual. Membangun kembali peradaban Islam tidak dapat dilakukan hanya dengan melalui satu dua bidang kehidupan. Ini merupakan proses bersinergi, simultan dan konsisten. Maka proyek ini perlu disadari bersama sebagai sesuatu yang wajib (fardhu ‘ain) dan merupakan tanggung jawab yang perlu dibebankan kepada seluruh anggota masyarakat muslim.

http://tabloidjumat.com/index.php?option=com_content&view=article&id=55:dr-hamid-fahmy-zarkasyi-aktif-kritik-pemikiran-islam-liberal&catid=15:tokoh&Itemid=5

 

About Hamid Fahmy Zarkasyi

Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil, lahir di Gontor, 13 September 1958,. Saat ini menjadi pimpinan Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS),

Check Also

faktor kemunduran peradaban islam

Faktor Kemunduran Peradaban Islam

Setelah mengetahui asas kebangkitan peradaban Islam kini kita perlu mengkaji sebab-sebab kemunduran dan kejatuhannya. Dengan ...

%d bloggers like this: