Iconoclasme

Postmodernism is iconoclastic” kata Ferid Muhic mengawali kuliahnya di kampus ISTAC Malaysia di suatu pagi pada dekade lalu. Mata, telinga dan pikiran kami terfokus pada apa yang akan dijelaskan kemudian oleh Profesor Filologi dan filsafat Barat asal Macedonia itu.

Kami begitu penasaran apa sebenarnya maksud profesor itu. “Apa yang diperbuat oleh orang-orang postmodernis itulah yang disebut iconoclastic acts of destruction” lanjutnya. Namun, pernyataan kedua ini masih menantang Curiositas kami.

Kata-kata Profesor pun terus mengalir. Syhadan diceritakan, suatu ketika John Chapman (1887) membuat lukisan yang lebih unggul dari aliran impressonisme modern. Tapi ia tidak tahu apa nama lukisannya itu. Pokoknya bukan lukisan modern dan bahkan menyimpang dari pakem lukisan modern. Ia dengan nada main-main menamakannya post-Modern.

Lain John Chapman lain pula Charles Jencks. Jencks bersorak gembira ketika pada suatu hari di tahun 1972, perumahan Pruitt-Igoe di St. Louis, Missouri, Amerika Serikat dihancurkan. Gembira, karena bangunan itu adalah lambang kepongahan arsitektur modern. Hancurnya arsitek modern adalah kematian modernisme dan kelahiran postmodern. Banyak kisah seperti ini, tapi yang penting adalah bagaimana orang memaknai istilah postmodern.

Postmodern berasal dari kata modern. Modern yang diduga ditemukan oleh Cicero itu berarti here, now atau up to date, terkini atau kekinian. Istilah ini kemudian disematkan kepada zaman kejayaan Barat setelah zaman Kegelapan (Dark Ages) Eropa.

Tapi karena itu nama zaman, dan zaman itu selalu berubah, maka nama ini dipersoalkan. Apalagi di Barat, perubahan -termasuk dalam soal keyakinan dan kebenaran- adalah keniscayaan. Segala sesuatu harus berubah dan tidak ada yang permanen kecuali perubahan. Tentu yang berubah tidak pernah berwajah. Tanpa wajah boleh jadi tanpa identitas. Identitas modern dianggap tidak ada atau tidak keren lagi.

Bosan menjadi modern, orang lalu ganti identitas baru yaitu post-Modern atau after now. Tapi istilah ini pun bermasalah. Sebab waktu setelah hari ini secara esensial tidak atau belum wujud. Kalaupun dianggap wujud ia hanya sebagai wujud akal (mental existence).

Tidak aneh jika bagi sementara pakar bahasa istilah postmodern itu dianggap aneh. Leszex Kolaskosky, misalnya, mencirikan kata post-modern sebagai cacat istilah atau syntaxmatic (suatu perkawinan 2 kata yang tidak sah secara linguistik).

Maka dari itu hasilnya ambiguous. Kekesalan memahami istilah Postmodern mirip dengan anekdot di warteg “Hari ini bayar, besok gratis”. Tidak seorang pun pernah makan gratis disitu, sebab orang akan selalu makan hari ini dan tidak akan pernah makan esok hari.

Istilah postmodern kemudian dinisbatkan kepada suatu sikap sosial, sikap hidup atau mentalitas. Tapi tetap saja cacat. Sebab ternyata nama itu lahir dari kebencian, kritik atau bahkan kemarahan pada masa lalu. Postmo seperti durhaka pada ibu yang melahirkannya.

Watak postmodern yang serba menghancurkan atau dekonstruktif itu iconoclastis namanya. Iconoclasticism adalah istilah keagamaan yang diambil dari kata eikon dan klaein. Eikon artinya gambar, frame atau image dan klaein artinya menghancurkan.

Dulu, iconoclasticism adalah aliran keagamaan dalam Kristen yang menafikan pemujaan terhadap gambar (iconolaters). Penganutnya disebut iconoclast yang kemudian menjadi julukan bagi siapa pun yang merusak dogma yang mapan. Di zaman Byzantium mereka dikenal dengan sebutan iconodules atau iconophiles.

Dari sekedar menghancurkan gambar keagamaan, iconoclasme berubah menjadi sikap menghancurkan tradisi. Icon bukan lagi gambar tapi doktrin, tradisi, kepercayaan atau prinsip kebenaran.

Bagi Rudolf Panwitz dalam The Crisis of European Culture, yang dihancurkan postmo adalah sikap militeristik, elitis dan nasionalistis. Menurut Kevin J. Vanhoozer, dalam The Cambridge Companion to Postmodern Theology, target penghancuran postmo adalah bangunan, sistem konsep, rezim politik, dan teologi.

Tapi bagi Nietszche lebih fundamental lagi, yang dikritik dan dihancurkan postmo adalah “nilai kebenaran”. Karena kebenaran berasal dari tuhan, tuhan pun kena marah lalu dibunuh. Membunuh tuhan adalah membunuh keimanan atau teologi. Karena teologi adalah bagian dari metafisika, maka postmodernisme adalah post-metafisik, atau post-religion. Kalaupun ada itu namanya religion without god.

Metafisik adalah rumah agama-agama. Maka putus cinta dengan agama berarti hengkang dari rumahnya. Disini postmodernis kehilangan atau menghilangkan segalanya, kecuali nalarnya. Maka tepat sekali Giani Vattimo ketika menyimpulkan bahwa orang Barat postmodernis adalah nihilis yang sempurna atau kufur kaffah, dalam bahasa Islam.

Maknanya, nihil dari kebenaran dan nilai. Sebab seperti ajaran Nietzsche, kebenaran itu tidak pasti, karena terus berubah. Bahkan prinsip pertama postmodern yang iconoclastic itu bagi Kevin J. Vanhoozer adalah himbauan “Jangan percaya pada yang absolute”.

Alasannya, percaya pada kebenaran absolute menurut Lyotard dalam Postmodern Explained adalah kejahatan kemanusiaan. Sebab kepercayaan ini menjurus pada totalitarianisme atau ideologi. Kini apa yang dilakukan postmo terhadap agama, seni, filsafat dan berpikir secara umum adalah pembersihan kuil-kuil pengetahuan dari sisa pemujaan konseptual.

Akhirnya, kebenaran berganti rumah dari metafisik menjadi fisik, dari surga turun ke dunia, dari sacred menjadi profan. Alat ukurnya pun kaca mata saintis sosial (khususnya konstruksionis).

Sifatnya menjadi positivistik dan saintifik yang terus berubah sesuai dengan realitas obyektif. Benar berarti benar secara empiris dan sosiologis-kultural. Benar menurut Tuhan sudah tidak relevan lagi karena tuhan di zaman postmo telah mati.

Kalau jutaan pria-wanita di AS setuju dengan nikah sejenis, misalnya, maka nikah seperti itu adalah benar secara obyektif. Dapat disahkan oleh undang-undang, kalau tidak akan melanggar HAM. Bagi postmo tidak ada lagi nilai standar untuk menentukan baik-buruk dan benar-salah, kecuali masyarakat. Itulah dekonstruksi nilai, kebenaran dan otoritas pemegangnya sekaligus.

Jadi, kini iconoclasme beralih fungsi menjadi menghancurkan logosentrisme (cara berpikir) Barat modern, dogma dan doktrin keagamaan, kebenaran, nilai-nilai moralitas, tatanan sosial bahkan makna-makna mapan dalam bahasa. Iconoclast secara khusus berarti orang yang menyerang kepercayaan atau lembaga yang telah mapan. Jadi apa yang sedang dikerjakan orang postmodernis yang berwajah liberal itu adalah iconoclastic acts of destruction.

About Hamid Fahmy Zarkasyi

Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil, lahir di Gontor, 13 September 1958,. Saat ini menjadi pimpinan Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS),

Check Also

sekularisasi

Deprivatization

Ketika Ahmadiyah ditolak oleh umat Islam Indonesia dan ketika Saksi Jehovah ditolak oleh umat Katholik ...

%d bloggers like this: