Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer (Part.1)

Berikut ini adalah jawaban dari banyaknya pertanyaan yang berkaitan dengan wacana Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer.

1. Dari mana sebenarnya asal gagasan Islamisasi ilmu Pengetahuan Kontemporer?

Gagasan ini dilontarkan untuk pertama kalinya oleh Prof. Dr. Syed Moh. Naquib al-Attas, seorang pakar filsafat Islam, kalam, dan tasawuf. Gagasan ini kemudian dipopulerkan oleh Ismail Raji al-Faruqi.

Namun, sebenarnya sebelum itu proses Islamisasi ilmu pengetahuan telah ada dalam sejarah Islam. Surah al-‘Alaq (96): 1-5, itu mencerminkan semangat Islamisasi ilmu pengetahuan, sebab sebelum itu ide bahwa Allah adalah sumber dan asal ilmu manusia belum ada.

Ismail Raji al-Faruqi juga mengakui bahwa Islamisasi ilmu modern merupakan satu tugas yang pernah “dimainkan oleh nenek moyang kita yang mencerna ilmu zaman mereka dan mewariskan kepada kita peradaban dan kebudayaan Islam, walaupun ruang lingkupnya kini lebih luas”. Ide ini kemudian diikuti oleh pemikir-pemikir masa kini.

2. Tahun berapa gagasan ini dicetuskan dan bagaimana perkembangannya hingga kini?

Gagasan al-Attas dimulai sejak tahun 70an, dimana dia sebagai ahli sejarah Melayu menemukan teori Islamisasi worldview dunia Melayu. Ide ini kemudian dikembangkan oleh al-Attas menjadi Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer dan puncaknya adalah gagasan perlu didirikannya universitas Islam.

Ide ini dicetuskan al-Attas pada Konferensi Dunia Tentang Pendidikan Islam Pertama tahun 1977 di Makkah. Realisasi ide ini adalah berdirinya Universitas Islam Internasional Islamabad Pakistan dan diikuti oleh Universitas Islam Internasional Malaysia, pada tahun 80an.

Sementara Ismail Rajhi al-Faruqi mendirikan International Institute of Islamic Thought (IIIT) di Amerika dan selama dua dekade telah melaksanakan berbagai seminar, konferensi dan simposium mengenai Islamisasi. Hingga kini gagasan ini terus berkembang pada komunitas tertentu, meskipun terdapat pendapat yang pro dan kontra.

3. Mengapa ilmu harus di-Islamkan?

Sedikitnya ada tiga alasan : Pertama, Problem terpenting yang dihadapi umat Islam saat ini adalah masalah ilmu pengetahuan; Kedua, Ilmu pengetahuan kontemporer tidaklah bebas nilai (netral), sebab ia dipengaruhi oleh pandangan-pandangan keagamaan, kebudayaan, dan filsafat, yang mencerminkan kesadaran dan pengalaman manusia Barat.

Ketiga, Ilmu pengetahuan yang dimiliki dan dikembangkan oleh umat Islam saat ini dihegemoni (dikuasai) oleh ilmu pengetahuan Barat yang sekuler tersebut. Maka dari itu ilmu pengetahuan kontemporer yang ditangan orang Islam itu harus di-Islamkan.

4. Apa yang dimaksud dengan kesadaran manusia Barat? dan apa salahnya?

Kesadaran manusia Barat adalah cara pandang yang mengandalkan akal semata-mata untuk membimbing manusia mengarungi kehidupan yang melihat realitas dan kebenaran secara dualistis, maksudnya selalu memandang segala sesuatu secara mendua seperti agama dan politik, ilmu dan agama, jiwa dan raga, dan sebagainya.

Demikian pula realitas empiris dipisahkan dari realitas rasional dan masing-masing dianggap memiliki tingkat kebenarannya masing-masing, kebenaran obyektif dan kebenaran sobyektif. Selain itu dengan doktrin humanisme manusia diletakkan sebagai ukuran segala sesuatu.

Akibatnya, yang menentukan apakah sesuatu itu riil atau tidak, benar atau salah, baik atau buruk dan seterusnya adalah manusia. Disini agama tidak lagi menjadi ukuran dan dasar cara pandang terhadap segala sesuatu.

5. Apa maksud worldview dan Islamisasi worldview?

Worldview adalah konsep umum yang dimiliki setiap peradaban. Hanya saja istilah dan definisinya bervariasi. Maka ada istilah dan pengertian umum dan ada pula yang Islam. Secara umum worldview adalah asas bagi perilaku semua manusia, termasuk aktifitas ilmiah dan teknologi.

Pandangan Islam (worldview) adalah visi tentang realitas dan kebenaran yang menjelaskan hakekat wujud. Kesadaran manusia Barat yang disebutkan diatas adalah diantara gambaran worldview Barat. Dan worldview itulah yang menjadi dasar dari lahirnya ilmu pengetahuan Barat.

Dalam buku Worldview, History of Concept, karya David K. Naugle, dinyatakan bahwa ilmu pengetahuan apapun pasti dihasilkan oleh worldview masing-masing. Maka dari itu mengislamkan ilmu pengetahuan Barat berarti mengislamkan worldview atau cara pandangnya terlebih dahulu. Jadi Islamisasi worldview adalah penggantian cara pandang atau konsep yang tidak sesuai dengan Islam dengan konsep-konsep Islam.

About Hamid Fahmy Zarkasyi

Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil, lahir di Gontor, 13 September 1958,. Saat ini menjadi pimpinan Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS),

Check Also

Print

Perbedaan Worldview Islam dan Barat

Dengan menggunakan worldview sebagai tolok ukur identitas suatu peradaban sebenarnya telah dapat diketahui bahwa antara ...

%d bloggers like this: