Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer (Part.3)

11. Kembali ke masalah worldview Apa yang salah dalam ilmu pengetahuan yang lahir berdasarkan worldview Barat? Apakah dengan masuknya cara berpikir Barat bukan justru menambah maju umat Islam?

Menggunakan cara berpikir Barat akan membawa akibat yang oleh al-Attas disebut de-islamisasi pemikiran umat Islam. Masalahnya ada pada presupposisi kajian sains Barat dan metodologi pengkajian ilmu-ilmu sosial yang sekuler.

Akibat yang utama adalah hilangnya adab, yang oleh SH. Nasr disebut desacralization of knowledge. Hilangnya adab berimplikasi pada hilangnya sikap adil dan kebingungan intelektual (intellectual confusion), yaitu tidak mampu membedakan antara ilmu yang sesuai dengan Islam dan yang tidak.

Disini ilmu hanya untuk ilmu. Bahkan ilmu adalah kekuasaan (knowledge is power). Ilmu sudah tidak ada hubungannya dengan iman, amal, ibadah, maslahat dan sebagainya. Jika model ilmu pengetahuan seperti ini dimiliki umat Islam maka umat Islam mungkin bisa “maju” dalam standar Barat, tapi tidak “maju” dalam perspektif Islam.

12. Apa contoh yang jelas dari desakralisasi ilmu dan hilangnya adab seseorang?

Jika ilmu itu tidak lagi sakral, maka seorang yang ‘alim atau berilmu tidak perlu berakhlaq. Itu yang paling ringan. Yang berat akan menganggap segala sumber ilmu di dunia ini, termasuk al-Qur’an dan Hadis tidak sakral lagi dan dapat diragukan dikritik dengan rasio mereka sebagaimana teks-teks manusia biasa.

Kasus di IAIN Surabaya dan STAIN Jember yang melecehkan (menginjak) lafadh Allah adalah akibat dari desakralisasi itu tadi. Thesis-thesis yang menyoal otentisitas Wahyu akibat nyata dari hilangnya adab.

Jika sumber Islam sudah dilecehkan maka para ulama akan mendapat gilirannya, karena mereka dianggap manusia biasa. Ulama besar sekelas Imam al-Syafi’i misalnya bisa dianggap sama dengan mahasiswa S1 atau orang awam yang tidak perlu dihormati dan dijadikan sumber ilmu. Inilah contoh nyata dari kehilangan adab.

13. Jadi apa sebenarnya yang diislamkan dari sebuah ilmu itu? Apakah setelah diislamkan akan lahir disipllin ilmu Islam, dan bahkan pesawat terbang Islam, mobil Islam dan sebagainya?

Pertama kita harus paham dulu bahwa ilmu dalam worldview Islam itu adalah representasi makna sesungguhnya dari realitas sesuatu oleh jiwa yang rasional lagi tenang (al-nafs al-nathiqah al-muthma’innah). Jadi ilmu itu ada dalam jiwa, akal, qalb dan sebagainya.

Para ulama dalam tradisi intelektual Islam juga berpendapat bahwa ilmu tidak berada dalam buku-buku tapi dalam dada, yaitu sadr, tempat kesadaran (al-‘ilmu fi al-sudur la fi al-sutur). Jadi mengislamkan ilmu berarti mengislamkan sesuatu yang ada dalam pikiran, jiwa, akal dan qalb, bukan mengislamkan teknologi atau hasil teknologinya.

Jika sesudah itu akan lahir disiplin ilmu yang sesuai dengan worldview Islam adalah konsekuensi logis. Sebab epistemologi dalam Islam berkaitan erat dengan struktur metafisika dasar Islam yang telah terformulasikan sejalan dengan wahyu, hadis, akal, pengalaman dan intuisi.

14. Lalu bagaimana mengislamkan ilmu yang tidak Islami yang ada dalam pikiran kita?

Menurut teori al-Attas pikiran kita harus dibebaskan dari kebiasaan berpikir magis, mitologis, animistis, kultur-nasional yang bertentangan dengan Islam, dan berpikir sekuler. Juga harus dibebaskan dari dorongan fisik kita yang cenderung sekuler dan tidak adil terhadap hakekat diri atau jiwa kita.

Sebab, menurut al-Attas, manusia dalam wujud fisiknya cenderung lupa tentang hakekat dirinya yang sebenarnya, menjadi bodoh tentang tujuan hidup yang sebenarnya dan lupa berbuat tidak adil terhadapnya. Jika dikaitkan dengan jiwa atau akal manusia Islamisasi adalah mengarahkan cara berpikir seseorang sesuai dengan kecenderungan nuraninya. Islamisasi juga berarti proses menuju bentuk asalnya alias menuju fitrah manusia.

15. Apa bedanya Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer dengan istilah “Pengilmuan Islam” yang dilontarkan Prof. Kuntowijoyo?

Saya rasa gagasan umumnya tidak berbeda dengan Islamisasi. Bahkan dalam pengantar bukunya yang berjudul Islam Sebagai Ilmu, Kuntowijoyo menerima Islamisasi ilmu pengetahuan sebagai perlu, meskipun menurutnya tidak semua ilmu perlu diislamkan. Disini ia tidak menggunakan asas worldview dan epistemologi Islam.

Sebab ia masih terjebak oleh pertanyaan, bagaimana mengislamkan teknologi dan bagaimana mengislamkan novel dan kritik sastra. Ia juga tidak menyinggung bahwa di masa lalu proses Islamisasi ilmu pengetahuan asing juga terjadi. Yang sangat berbeda dari al-Attas, Prof. Kunto lebih menggunakan pendekatan sosiologis daripada epistemologis. Wallalu alam

About Hamid Fahmy Zarkasyi

Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil, lahir di Gontor, 13 September 1958,. Saat ini menjadi pimpinan Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS),

Check Also

Print

Perbedaan Worldview Islam dan Barat

Dengan menggunakan worldview sebagai tolok ukur identitas suatu peradaban sebenarnya telah dapat diketahui bahwa antara ...

%d bloggers like this: