Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer (Part.4)

16. Bagaimana contoh bepikir yang sesuai dengan ajaran Islam?

Contohnya adalah dalam melihat sumber ilmu pengetahuan. Dalam Islam terdapat dua jenis kitab yaitu wahyu al-Qur’an sebagai kitab tertulis, dan alam semesta sebagai kitab tidak tertulis. Seperti halnya kitab al-Qur’an, alam semesta ini juga mempunyai ayat-ayat yang jelas dan pasti (muhkamaat) dan ada pula ayat-ayat yang mutasyabihaat (ambigu).

Untuk memahami ayat-ayat (muhkamaat) dipergunakan metode tafsir, sedangkan untuk memahami ayat-ayat mutasyabihaat digunakan metode ta’wil. Dalam alam semesta ini memang terdapat obyek-obyek yang dapat diindera secara langsung (self evident) dan ada pula obyek-obyek yang abstrak dan tidak dapat diindera kecuali dengan intuisi, dan intuisi itu berdasarkan pada iman.

17. Bagaimana posisi Islam dalam menyikapi perseteruan antara paham rasionalisme dan empirisisme?

Islam mengkombinasikan antara paham rasionalisme dan empirisisme. Tapi tidak sekedar menyatukannya seperti pola Kantianisme. Islam menambahkan wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan tentang sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh metode empiris-rasional.

Perbedaan utamanya terletak pada asumsi dasarnya, dan asumsi dasar itu dipengaruhi oleh konsep-konsep kunci dalam pandangan hidup masing-masing. Konsep-konsep tentang alam, manusia, ilmu, nilai, kehidupan dan sebagainya misalnya Islam berbeda secara diametris dari Barat.

Jadi secara garis besar kerja epistemologis dalam Islamisasi ilmu pengetahuan melibatkan struktur ilmu pengetahuan dalam pandangan hidup Islam, dimana wahyu merupakan salah satu sumber terpentingnya.

18. Bagaimana membebaskan unsur sekuler dari dalam disiplin ilmu Barat kontemporer?

Disini unsur-unsur sekuler dalam ilmu sosial lebih banyak ketimbang ilmu alam atau fisika. Sebab ilmu alam terikat oleh sunnatullah dan tidak bisa dimanipulasi. David K. Naugle dalam karyanya Worldview, History of Concept menyatakan bahwa worldview kurang berpengaruh terhadap ilmu eksak, tapi lebih banyak pengaruhnya pada ilmu sosial. Meskipun demikian, untuk ilmu fisika atau applied science yang harus diislamkan adalah kerja interpretasi fakta-fakta dan formulasi teori-teorinya.

Untuk kedua ilmu sosial dan eksak yang perlu diuji secara kritis diantaranya adalah metode-metodenya; konsep-konsepnya, teori-teorinya, dan simbol-simbolnya; aspek-aspek empiris dan rasional, dan aspek-aspek yang bersinggungan dengan nilai dan etika; interpretasinya tentang asal-usul; teorinya tentang ilmu pengetahuan; pemikirannya tentang eksistensi dunia nyata, tentang keseragaman alam raya, dan tentang rasionalitas proses-proses alam; teorinya tentang alam semesta; klasifikasinya tentang ilmu; batasan-batasannya dan kaitannya antara satu ilmu dengan ilmu-ilmu lain, dan hubungan sosialnya.

Jika semua itu tidak sejalan dengan worldview Islam maka harus dibersihkan atau disesuaikan dengan Islam. Itu semua dapat disebut juga sebagai proses de-westernisasi.

19. Lalu apa proses selanjutnya?

Baik, proses selanjutnya adalah memasukkan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci Islam kedalam setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang relevan. Konsep-konsep dasar Islam yang harus dimasukkan kedalam tubuh ilmu apapun yang dipelajari umat Islam diantaranya adalah konsep tentang din, manusia (insan), ilmu (ilm dan ma’rifah), keadilan (‘adl), amal yang benar (amal sebagai adab) dan semua istilah dan konsep yang berhubungan dengan itu semua.

Konsep tentang universitas (kulliyah, jami’ah) dianggap sebagai penting sebab ia berfungsi sebagai bentuk implementasi semua konsep-konsep itu dan menjadi model sistem pendidikan. Konsep-konsep itu semua adalah bagian integral dari pandangan hidup Islam. Dalam kaitannya dengan pandangan hidup Islamisasi ilmu berarti juga mengaitkan konsep ilmu dengan konsep adab secara benar.

20. Apakah Islamisasi konsep akan meningkat menjadi Islamisasi bahasa atau istilah?

Benar, dalam teori al-Attas Islamisasi diawali dengan Islamisasi bahasa dan ini dibuktikan oleh al-Qur’an ketika diturunkan kepada orang Arab. Sebab alasannya, “Bahasa, pemikiran dan rasionalitas berkaitan erat dan saling bergantung dalam memproyeksikan worldview atau visi Hakikat kepada manusia.

Pengaruh Islamisasi bahasa menghasilkan Islamisasi pemikiran dan penalaran. Karena dalam bahasa terdapat istilah dan dalam setiap istilah mengandung konsep yang harus dipahami oleh akal pikiran. Jika sesorang berusaha menggunakan bahasa dan konsep yang berdasarkan worldview Islam maka dengan ia sedang dan telah melakukan proses Islamisasi ilmu.

21. Sampai disini apakah kemudian kita bisa membedakan ilmu Islam dan ilmu Barat?

Sudah tentu, dari gambaran diatas ilmu menjadi berkaitan dengan aqidah dan iman, diikuti oleh amal. Sebab tidak ada ilmu yang berguna tanpa amal, dan tidak ada amal yang berfaedah tanpa ilmu.

Maka dari itu tujuan mencari ilmu dalam Islam adalah “untuk menjadi manusia yang baik” berdasarkan pada pandangan hidup Islam. Sementara tujuan mencari ilmu menurut worldview Barat adalah “untuk menjadi warganegara yang baik dari suatu negara sekuler”.

Pendidikan Islam lebih universal, sebab sistem pendidikan dalam Islam harus merefleksikan manusia dan bukan negara. Maka universitas dalam Islam pun harus didesain agar merefleksikan sesuatu yang universal, yaitu Manusia Sempurna Universal (al-Insan al-Kamil) yang dalam Islam telah direalisasikan dalam diri pribadi Nabi Muhammad SAW.

About Hamid Fahmy Zarkasyi

Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil, lahir di Gontor, 13 September 1958,. Saat ini menjadi pimpinan Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS),

Check Also

Print

Perbedaan Worldview Islam dan Barat

Dengan menggunakan worldview sebagai tolok ukur identitas suatu peradaban sebenarnya telah dapat diketahui bahwa antara ...

%d bloggers like this: