Liberalisme dan Islam

Francis Fukuyama dalam bukunya itu jelas-jelas mensejajarkan atau merivalkan Islam dengan ideologi Liberalisme dan Komunisme. Islam ia anggap memiliki nilai moralitas dan doktrin-doktrin politik dan keadilan sosialnya sendiri. Dan karena itu pernah menjadi tantangan bagi demokrasi liberal dan praktek-praktek liberal. Ia bahkan tetap pada pendiriannya bahwa nilai-nilai liberal Barat merupakan ancaman bagi masyarakat Islam. Dalam hal ini Fukuyama menegaskan:

Tidak diragukan lagi, dunia Islam dalam jangka panjang akan nampak lebih lemah menghadapai ide-ide liberal ketimbang sebaliknya, sebab selama seabad setengah yang lalu liberalisme telah memukau banyak pengikut Islam yang kuat. Salah satu sebab munculnya fundamentalisme adalah kuatnya ancaman nilai-nilai liberal dan Barat terhadap masyarakat Islam tradisional.

Fukuyama secara eksplisit meletakkan Islam, Liberalisme dan Komunisme sebagai ideologi-ideologi atau pemikiran yang mempunyai doktrin masing-masing dan saling bertentangan satu sama yang lain dan saling mengancam. Jika demikian maka wajar jika liberalisme juga dianggap sebagai tantangan dan ancaman bagi Islam. Apa yang disebut ancaman bukan bayang-bayang ketakutan yang satu terhadap yang lain, akan tetapi merupakan fakta bahwa liberalisme dan Islam itu sangat berbeda. Perbedaan ini dapat dilacak dari fakta bahwa ummat manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan setiap bangsa memiliki peradaban sendiri-sendiri. Cara berfikir dan cara pandang antara satu peradaban dengan yang lain juga berbeda-beda. Perbedaan itu lebih berupa perbedaan cara memandang kehidupan atau perbedaan pandangan hidup (worldview). Perbedaan pandangan hidup antara satu bangsa dengan bangsa yang lain dipengaruhi oleh kultur, agama, kepercayaan, ras dan lain-lain. Dalam artikel berjudul If Not Civilizations, What? (Samuel Huntington Responds to His Critics), Huntington menyatakan bahwa substansi atau asas peradaban adalah prinsip-prinsip keagamaan dan filsafat. Oleh sebab itu faktor-faktor untuk mengidentifikasi orang, dan juga faktor yang menjadikan mereka siap perang dan mati adalah keimanan dan keluarga (faith dan family), darah (baca: ras) dan kepercayaan (blood and belief).

Perbedaan identitas dan kemudian gesekan antara satu peradaban dan worldview inilah yang disekenariokan dan diteorikan Samuel P Huntington sebagai “clash of civilization” (benturan antar peradaban). Benturan ini menurutnya akan mengakibatkan ketegangan, benturan, konflik ataupun peperangan di masa depan. Selain itu, tesis Huntington merupakan deklarasi ataupun self-disclosure bahwa Barat akan berhadapan dengan peradaban yang berbeda dan akan mengakibatkan ketegangan, benturan, konflik ataupun peperangan di masa depan. Masalahnya bukan hanya karena terdapat perbedaan antar peradaban, tapi karena peradaban atau bangsa-bangsa Barat mengklaim cara pandang mereka itu “universal” dan dapat dianut oleh seluruh umat manusia.

Persoalannya apa yang oleh Barat itu dianggap “universal” ternyata tidak demikian bagi umat Islam. Faktanya memang antara konsep-konsep Barat dan Islam terdapat perbedaan yang tidak dapat disatukan. Perbedaan ini pada tingkat kehidupan sosial menyebabkan konflik, clash atau dalam bahasa Peter L Berger disebut collision of consciousness (tabrakan persepsi). Pada tingkat individu, mengakibatkan terjadinya pergolakan pemikiran dalam diri seseorang dan pada dataran konsep, mengakibatkan tumpang tindih dan kebingungan konseptual (conceptual confusion). Perang pemikiran pada tingkat inidividu inilah yang kini dirasakan ummat Islam Indonesia. Jadi perang pemikiran dalam skala besar saat ini terjadi antara peradaban Islam dan kebudayaan Barat atau pandangan hidup (worldview) Islam dan Barat.

Sebenarnya jika globalisasi difahami secara adil maka Barat dapat memahami worldview Islam dan bahkan dapat saling tukar menukar konsep dan sistim yang tidak bertentangan dengan worldview masing-masing. Akan tetapi Barat berusaha memaksakan penggunaan konsep-konsep mereka itu kedalam pikiran umat Islam. Pemaksaan itu dikenal dengan program westernisasi dan globalisasi. Penggunaan istilah “Islam fundamentalis”, “Islam Liberal”, “Islam tradisional”, “Islam modern” dan sebagainya merupakan sedikit contoh bagaimana terminologi dan konsep-konsep Barat dipaksakan kepada umat Islam. Untuk penyebaran konsep-konsep, nilai, kultur dan sistim, Barat menggunakan berbagai sarana. Westernisasi dan Globalisasi digunakan sebagai kendaraan untuk menyebarkan budaya, paham-paham dan ideologi Barat, orientalisme dimanfaatkan untuk membaca pemikiran Islam dari kaca mata Barat sehingga melahirkan makna Islam yang berbeda dari pemahaman umat Islam sendiri. Missionarisme dipakai untuk memperluas penerimaan kultur dan kepercayaan Barat, dan terakhir kolonialisme yang merupakan kekuatan strategis untuk penaklukan dunia Islam yang memanfaatkan orientalisme dan missionarisme untuk tujuan-tujuan politik dan ekonomi.

Masyarakat Barat memang terbukti tidak toleran dan bahkan resisten terhadap praktek-praktek keagamaan masyarakat Islam di Barat. Di negeri-negeri mereka (Barat) misalnya kita tidak akan pernah menyaksikan mimbar agama Islam di TV, atau perayaan hari Raya Islam ditempat terbuka, kumandang azan dari menara masjid. Padahal di negara mayoritas Muslim umat Kristiani bebas merayakan hari natal, caramah di TV, membunyikan lonceng gereja dan sebagainya. Demikian pula dalam soal pakaian. Di Barat pakaian jilbab bagi Muslimah di “haramkan”, sementara umat Islam Indonesia dipaksa toleran terhadap orang Barat yang berpakaian setengah telanjang ditempat-tempat umum. Jika sikap masyarakat Barat begitu resisten, maka tidak heran jika umat Islam juga resisten terhadap paham-paham sekuler, liberal, pragmatis dan hedonis serta berbagai kultur yang khas masyarakat Barat. Sudah tentu situasi seperti ini harus diterima sebagai konflik atau perang pemikiran yang telah terjadi dan berjalan terus. Inilah yang disebut dengan Ghazwul fikri (perang pemikiran).

Kini setelah peristiwa dramatis 11 September 2001, upaya-upaya Barat untuk menyebarkan nilai, ide, konsep, sistim dan kultur Barat kedunia Islam semakin gencar dan merupakan kerjasama kompak antara Barat kolonialis, orientalis dan missionaris. Karena hal ini berkaitan dengan pemikiran, maka mediun yang digunakan untuk menyebarkan konsep dan pemikiran Barat adalah medium untuk pemikiran yang berupa karya-karya ilmiyah, seperti buku, makalah-makalah dan workshop-workshop ataupun berupa opini di media elektronik dan media masa. Namun, medium yang paling efektif bagi penyebaran teori, konsep dan ideologi adalah bangku-bangku kuliah di perguruan tinggi melalui mulut para intelektual, ulama, saintis, budayawan dsb. Melalui berbagai sarana inilah maka secara teknis paham, ide, konsep, sistim dan teori liberalisme Barat disebarkan kedunia Islam.

 

About Hamid Fahmy Zarkasyi

Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil, lahir di Gontor, 13 September 1958,. Saat ini menjadi pimpinan Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS),

Check Also

substansi peradaban islam

Substansi Peradaban Islam

Makna Peradaban Islam Islam yang diturunkan sebagai din, sejatinya telah memiliki konsep seminalnya sebagai peradaban. ...

%d bloggers like this: