Mencari Format Sejarah Peradaban Islam

By : Hamid Fahmy Zarkasyi

Sejarah pemikiran dan peradaban Islam selalu menarik untuk ditulis dan tidak habis-habisnya. Karena universalitas ajaran Islam, banyak sisi yang dapat disorot dan dikupas. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam karya Dr. M. Abdul Karim merupakan salah satu upaya untuk memotret sejarah pemikiran dan peradaban Islam dari sejak zaman Nabi hingga zaman modern. Suatu upaya yang berharga dan perlu diapresiasi. Untuk itu beberapa catatan mengenai kelebihan dan kekurangan buku ini perlu disampaikan, demi pengembangan wacana sejarah pemikiran dan peradaban Islam serta kesempurnaan karya ini dimasa mendatang.

Kandungan buku

Buku ini secara umum menyoroti sejarah peradaban Islam dengan penekanan pada aspek politiknya. Sejarah pemikirannya tidak semenonjol sejarah politiknya. Bahkan sejarah pemikiran hanya dibahas ketika penulis mengupas kegiatan keilmuan di zaman dinasti Abbasiyah dibawah kekuasaan al-Ma’mun. Itupan masih belum merupakan penjelasan yang lengkap mengenai tradisi keilmuan di zaman Abbasiyah dengan munculnya berbagai tokoh saintis Muslim dan juga karya-karya besar dibidang sains dan bidang lain di zaman itu. Kegiatan keilmuan di al-Suffah oleh Ashab al-Suffah bersama Nabi tidak dibahas. Kelahiran al-Azhar tidak dikupas seperti di Abbasiyah. Padahal buku ini berjudul Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam.

Hubungan antara pemikiran dan politik dalam Islam sebenarnya sangat erat sekali. DB McDonald bahkan berani menyatakan bahwa dimasa Islam generasi awal pemikiran Islam dipicu oleh adanya problem politik. Artinya ketika Muslim melihat peristiwa-peristiwa sosial, seperti pembunuhan Umar, Usman dan Ali mereka mengangkat peristiwa itu menjadi kajian teologis. Dari perdebatan tentang murtakibul kaba’ir Muslim berfikir spekultif sehingga berkembang menjadi pemikiran metafisis yang lain. Gambaran  politik yang dikaitkan dengan agama dan pemikiran keagamaan sangat diperlukan karena ini sekaligus merupakan karakter khas peradaban Islam yang berbeda dari peradaban Barat.

Framework Kajian

Karena banyaknya buku sejarah Islam, yang pertama-tama menarik untuk dikaji adalah framework kajian sejarahnya. Dan itu sangat ditentukan oleh penjelasan penulis akan makna peradaban Islam itu sendiri. Penulis buku ini menelusuri dengan baik synonim dari kata peradaban dari budaya, kultur, civilisasi, peradaban dsb. Namun, tidak menemukan rumusan yang komprehensif, fundamental dari makna peradaban Islam baik secara etimologis maupun terminologis, sehingga dari situ dapat ditangkap framework kajiannya.

Framework itu perlu ditemukan sebab gambaran tentang sejarah pemikiran dan peradaban tidak sama dengan sejarah peradaban lain. Sejarah Islam bermula dari perjalanan hidup dan perjuangan Nabi Muhammad SAW yang akhlaknya adalah al-Qur’an, dan statusnya adalah ma’sum. Untuk membedakan itu ulama biasanya menggunakan istilah SÊrah untuk menggambarkan perjalanan hidup dan perjuangan seorang Nabi dan bukan Tarikh al-Nabi yang hanya menggambarkan kronologi kehidupan Nabi atau Hayat Muhammad yang hanya menyoroti kehidupan Nabi sebagai manusia biasa. Demikian pula perjalanan sejarah peradaban Islam paska Nabi dapat dikatakan sebagai kelanjutan sirah Nabi yang mempunyai nilai-nilai yang sama atau bersumber nilai yang sama.

Jika digunakan framework yang jelas kita dapat menghukumi beberapa banyak penyimpangan yang dilakukan oleh para khalifah dari sunnah Nabi dan praktek Khulafa’ al-Rasyidun. Namun tanpa menggunakan framework yang jelas penulis dapat mencatat dengan baik perbedaan antara zaman khulafa al-rasyidun dengan kekhalifahan Umayyah (hal. 141-142) dan antara kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah (hal 179-181). Namun sayang penulis tidak mencermati terjadinya degradasi nilai dari zaman khulafa’ al-Rasyidun hingga kekhalifahan Abbasiyah. Jika itu dilakukan tentu buku ini akan banyak menjelaskan apakah kekuasaan politik dalam sejarah peradaban Islam sejalan dengan Islam masa awal, dan apakah tradisi intelektualnya serta pemikiran para ulamanya sejalan seirama dengan orientasi politik atau berjalan sendiri tanpa terpengaruh oleh situasi politik.

Sebenarnya, secara etimologis kata Sejarah merupakan derivasi dari kata Syajarah dalam bahasa Arab yang artinya pohon. Simbolisasi perjalanan peradaban Islam itu termaktub dalam al-Qur’an surah Ibrahim 24-25 yang terjemahannya adalah sbb:

(24) Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah Telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (tawhid) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit (25) Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

Jika ayat diatas dicermati maka kita dapat membuat peta pemikiran peradaban Islam, dengan mengidenfikasi sumber pemikiran atau keilmuannya serta faktor-faktor lain yang mempengaruhi perjalanan keilmuannya. Jika peta peradaban Islam hanya dibaca dari pengertian dan teori kebudayaan lain yaitu hanya sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. atau keseluruhan sistim gagtasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (hal 25), maka fondasi peradaban Islam yang bersumber dari al-Qur’an akan kehilangan maknanya.

Sumber peradaban

Sebenarnya penulis buku ini sudah menegaskan bahwa sumber peradaban Islam adalah al-Qur’an dan Hadith (hal.37). Namun ia belum mengkaitkan bagaimana al-Qur’an dan Hadith itu menjelma menjadi ilmu yang mendorong berkembangnya peradaban Islam itu. Nampaknya penulis buku ini masih belum merasa yakin untuk mengatakan bahwa kebudayaan Islam itu adalah hasil karya umat Islam karena terdapat didalamnya non-Muslim. Seperti yang tertulis pada halaman 32-33 sbb:

Sementara itu mengenai defnisi kebudayaan Islam, ada beberapa masalah, sehingga sulit untuk mendapatkan perumusan yang dapat dianggap tepat atau memuaskan. Beberapa uraian menyatakan bahwa maju dan berkembangnya kebudayaan Islam tidak hanya didukung oleh kaum Muslim saja, tapi juga orang non-Muslim.

Selain itu penulis buku ini juga masih ragu apakah yang baik yang sesuai dengan Islam tapi dari pemikiran non-Muslim dapat dinamakan kebudayaan Islam. Disini nampaknya penulis masih dibingungkan oleh aspek-aspek peradaban Islam yang berasal dari non-Muslim. Penulis belum menjelaskan bagaimana al-Qur’an berperan sebagai sumber peradaban Islam. Artinya belum menggali dan menemukan istilah dan konsep peradaban Islam dari al-Qur’an sebagai sumber peradaban Islam. Akibatnya, framework kajian sejarah peradaban Islam belum ditegaskan dan diformat berdasarkan pandangan hidup Islam (Islamic worldview). Jadi karena pengertian peradaban Islam itu masih belum jelas benar, pembahasan penulis buku ini tentang pradaban Islam juga menjadi tidak jelas.

Selain itu buku ini juga menyoroti faktor-faktor kejatuhan kekhalifahan Islam, namun sayangnya yang dijelaskan secara eksplisit hanya sebab-sebab kejatuhan Dinasti Abbasiyah (hal 161). Sedangkan faktor-faktor kejatuan dinasti Umayyah tidak diterangkan secara jelas. Jika ini dilakukan penulis niscaya buku ini akan menjadi pelajaran berharga bagi pembaca masa kini.

Penutup

Akhirul kalam, buku ini memilik informasi yang berharga tentang seluk beluk pergolakan politik di zaman Nabi, Zaman Khulafa’ al-Rasyidun, kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah termasuk Turki Usmani, serta kekhalifahan di Andalus yang tradisi keilmuannya tidak kalah tinggi dari kekhalifahan Abbasiyah.

= = = = =

Resensi Buku

Judul : Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam oleh

Penulis : M. Abdul Karim

 

About Hamid Fahmy Zarkasyi

Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil, lahir di Gontor, 13 September 1958,. Saat ini menjadi pimpinan Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS),

Check Also

arti mengislamkan

Arti Mengislamkan

Tabligh (mendakwahkan) risalah adalah wajib bagi Nabi. Karena itu Nabi mengirim surat keapda raja-raja mengajak ...

%d bloggers like this: