Mendudukkan Orientalis

Dalam kajian berbagai bidang keilmuan, termasuk bidang Islamic Studies, harus diakui, Barat/orientalis telah mencapai tahap perkembangan besar dengan segala motifnya, baik motif keilmuan, keagamaan, ataupun motif politik-ekonomi. Karena itulah, sikap kritis sangat diperlukan.

Masalahnya adalah bagaimana dapat bersikap kritis? Apa metodologi dan bekal untuk bersikap kritis? Tanpa penguasaan yang baik terhadap kedua khazanah: Islam dan Barat, maka sulit diharapkan, akan muncul sikap kritis yang benar. Bisa-bisa yang terjadi sebaliknya: menyangka telah bersikap kritis, tetapi justru yang terjadi adalah mengkritisi Islam dengan cara pandang non-Muslim.

Al-Attas bahkan menyatakan bahwa kita tidak akan dapat mengetahui masalah yang dihadapi umat Islam jika tidak mengetahui perbedaan Islam dan Barat. Namun ia tidak berbicara Barat dalam pengertian politik. Apa yang ia tekankan adalah dalam aspek pemikiran atau secara umum aspek pandangan hidup.

Terdapat perbedaan bahkan pertentangan permanen antara pandangan hidup Islam dan Barat. Oleh sebab itu jika kita mempelajari pemikiran orang Barat, khususnya orientalis, kita perlu mengkaji pula pandangan hidup yang menjadi asumsi dasar pemikiran tersebut. Pandangan hidup yang dimaksud terdiri dari konsep Tuhan, konsep manusia, konsep kehidupan, konsep kenabian, konsep alam dan lain-lain.

Pada dasarnya, tidak ada perubahan yang signifikan dan substansial antara orientalis dulu dan sekarang. Malah, Shireen T. Hunter, dalam satu tulisannya berjudul The Rise of Islamic Movements and The Western Response: Clash of Civilizations or Clash of Interests?”, menyebut, ilmuwan kontemporer seperti Bernard Lewis, termasuk tokoh aliran “neo-Orientalist” yang berbeda dengan aliran neo-Third-World. Pola pikir “neo-Orientalist” Lewis itulah yang mewarnai isi buku barunya, The Crisis of Islam, yang begitu banyak membela politik neo-Konservatif AS.

Singkatnya, kajian-kajian keislaman para orientalis bagaimanapun ilmiahnya, ia tetap berpijak pada pre-supposisi Barat, dan terkadang Kristen. Prinsip dasar bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, dan al-Qur’an adalah firman Allah tidak menjadi asas bagi kajian mereka.

Ini bisa dipahami, sebab dengan mengakui kerasulan Nabi Muhammad berarti mereka mengakui Islam sebagai agama terakhir. Mereka tidak mungkin pula mengakui al-Qur’an sebagai firman Allah.

Sebab al-Qur’an memuat banyak kecaman terhadap doktrin-doktrin agama Yahudi dan Nasrani, seperti: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam”, (al-Maidah, 5: 17 dan juga 5: 72);Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasannya Allah salah satu dari yang tiga”.(al-Maidah (5: 73); “Dan karena ucapan mereka sesungguhnya kami telah membunuh Isa al-masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka (al-Nisa 4: 157) dan berbagai ayat lainnya.

Kandungan al-Qur’an yang mengecam ajaran Yahudi dan Kristen seperti itu jelas akan menuai reaksi balik sepanjang masa. Seorang Kaisar Bizantin, Leo III (717-741 M.), misalnya, telah menuduh al-Hajjaj ibn Yusuf al-Tsaqafi, seorang Gubernur di zaman kekhalifahan Abdul Malik ibn Marwan (684-704 M) telah mengubah al-Qur’an (Arthur Jeffery, “Ghevond’s Text of the Correspondence between Umar II and Leo III, Harvard Theological Review, p. 269-332).

Peter, pendeta di Maimuma, pada tahun 743 menyebut Rasulullah SAW sebagai nabi palsu. Yahya al-Dimasyqi atau dikenal juga sebagai John of Damascus (m. 750) juga menulis dalam bahasa Yunani kuno kepada kalangan Kristen ortodoks bahwa Islam mengajarkan anti-Kristus.

John of Damascus berpendapat bahwa Muhammad adalah seorang penipu kepada orang Arab yang bodoh. Dengan liciknya, katanya, Muhammad bisa mengawini Khadijah sehingga mendapat kekayaan dan kesenangan. Dengan cerdasnya, Muhammad menyembunyikan penyakit epilepsinya ketika menerima wahyu dari Jibril. Muhammad memiliki hobi perang karena nafsu seksnya tidak tersalurkan. (Daniel J. Sahas, John of Damascus on Islam: “The Heresy of the Ishmaelites” (Leiden: E. J. Brill, 1972, hal. 67-95).

Seirama dengan John of Damascus, Pastor Bede dari Inggris yang hidup pada tahun 673-735 M berpendapat bahwa Muhammad adalah seorang manusia padang pasir yang liar (a wild man of desert). Bede menggambarkan Muhammad sebagai orang yang kasar, cinta perang dan biadab, buta huruf, status sosial yang rendah, bodoh tentang dogma Kristen, dan tamak kuasa, sehingga ia menjadi penguasa dan mengklaim sebagai seorang nabi.

Sikap menghina Rasulullah SAW berlanjut pada zaman pertengahan Barat. Pada saat itu, Rasulullah SAW disebut sebagai Mahound, atau juga Mahoun, Mahun, Mahomet, di dalam bahasa Perancis Mahon, di dalam bahasa Jerman Machmet, yang sinonim dengan setan, berhala. Jadi, Muhammad bukan sebagai seorang nabi palsu. Lebih dari itu, Ia merupakan seorang penyembah berhala yang disembah oleh orang Arab yang bodoh.

Gambaran buruk tersebut dimanipulasi oleh Paus Urbanus II untuk membakar semangat penganut agama Kristen dalam Perang Salib. Disebabkan provokasi Paus Urbanus II ini, ratusan ribu umat Islam disembelih sejak bermulanya perang salib pada tahun 1095.

Pada zaman kelahiran kembali (Renaissance) Barat dan zaman Reformasi (Reformation) Barat, image buruk terus berlanjut. Marlowes Tamburlaine menuduh al-Qur’an sebagai karya setan. Martin Luther menganggap Muhammad sebagai orang Jahat dan mengutuknya sebagai anak setan.

Pada zaman Pencerahan Barat, Voltaire menganggap Muhammad sebagai fanatik, ekstrimis dan pendusta yang paling canggih. Biografi Rasulullah SAW beserta al-Qur’an terus menjadi target. Snouck Hurgronje mengatakan: “Pada zaman skeptic kita ini, sangat sedikit yang dikritik, dan suatu hari nanti kita mungkin mengharapkan untuk mendengar bahwa Muhammad tidak pernah ada (In our skeptical times there is very little that is above criticism, and one day or other we may expect to hear that Muhammad never existed).

Harapan Hurgronje ini selanjutnya terealisasikan dalam pemikiran Klimovich, yang menulis sebuah artikel diterbitkan pada tahun 1930 dengan berjudul “Did Muhammad Exist?” Dalam artikel tersebut, Klimovich menyimpulkan bahwa semua sumber informasi tentang kehidupan Muhammad adalah buat-buatan. Muhammad adalah fiksi, karena selalu adanya asumsi bahwa setiap agama harus mepunyai pendiri.

Sikap para orientalis seperti itu tidak bisa disederhanakan kategorisasinya menjadi orientalis klasik yang berbeda dengan orientalis kontemporer.

Orientalis kontemporer tetap mengusung gagasan orientalis klasik sekalipun dengan kadar, level, cara dan strategi yang berbeda. Intinya sama saja yaitu mengingkari kenabian Muhammad dan kebenaran al-Qur’an.

Penolakan seperti itu adalah loci communes (common places) dalam pemikiran para orientalis. Ini bisa dimengerti karena eksistensi agama mereka tergugat dengan munculnya Islam. Karena hal ini juga, wajar jika kajian mereka kepada Rasulullah SAW dan al-Qur’an tidak dibangun dari keimanan, sebagaimana sikap seorang Muslim.

Para orientalis yang mengkaji bidang teologi dan filsafat Islam sejak DB. MacDonald Alfred Gullimaune, Montgomery Watt atau sebelumnya hingga Majid Fakhry, Henry Corbin, Michael Frank, Richard J McCarthy, Harry A. Wolfson, Shlomo Pines dan lain-lain mempunyai framework yang hampir sama.

Diantara asumsi yang umum mereka pegang erat-erat adalah bahwa filsafat, sains dan hal-hal yang rasional tidak ada akarnya dalam Islam. Islam hanyalah “carbon copy” dari pemikiran Yunani. Padahal diskursus filsafat di Ionia tidak ada apa-apanya dibandingkan wacana yang bersifat metafisis pada awal tradisi pemikiran Islam yang berkembang di zaman Nabi dan sahabat. Artinya para orientalis tidak mau mengakui bahwa pandangan hidup Islam adalah unsur utama berkembangnya peradaban Islam.

Sikap simpatik para orientalis terhadap Islam tidak serta merta menjadikan pemikiran mereka menjadi benar. Sebab, asumsi dan juga konsekuensi dari framework diatas adalah pengingkaran terhadap tradisi intelektual Islam yang berbasis pada wahyu. Transmisi ilmu pengetahuan melalui sumber yang disebut khabar mutawatir tidak diakui oleh mereka sebagai valid.

Jadi, sekalipun pengetahuan mereka tentang sejarah pemikiran keislaman mendalam, namun kajian mereka tetap fragmentatif. Mereka tidak menghubungkan kajian mereka tentang Islam yang spesifik dengan prinsip yang umum dan universal.

Kajian mereka tentang hal-hal yang spesifik seperti tentang sejarah al-Qur’an, etika dalam Islam, politik dalam Islam dan lain-lain tidak dikaitkan dengan makna Islam sebagai suatu agama dan pandangan hidup yang memiliki prinsip dan tradisinya sendiri.

Prinsip bahwa ilmu mendorong kepada iman, misalnya, tidak tercermin dalam tulisan-tulisan mereka. Ilmu-ilmu keislaman yang mereka miliki tidak mendorong pembacanya untuk beriman kepada Allah SWT. Tidak juga membuat mereka sendiri yakin dengan kebenaran Islam. Dan yang jelas mereka tidak bisa disebut sebagai ulama.

Sebagai penutup perlu dicatat bahwa Islam adalah agama dan pandangan hidup yang telah melahirkan peradaban yang gemilang. Untuk mempertahankan dan mengembangkan peradaban Islam tidak berarti menolak mentah-mentah masuknya unsur-unsur peradaban asing.

Sebaliknya untuk bersikap adil terhadap peradaban lain tidak berarti bersikap permisif terhadap masuknya segala macam unsur dari peradaban lain. Sebab adil dalam Islam adalah meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.

Untuk mengetahui tempat segala sesuatu perlu ilmu keislaman yang luas, dan dengan ilmu itu orang akan bersikap kritis. Hikmah adalah barang milik mukmin yang hilang, namun seorang mukmin tidak dapat menemukan hikmah yang hilang itu kecuali ia mengetahui apa itu hikmah.

About Hamid Fahmy Zarkasyi

Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil, lahir di Gontor, 13 September 1958,. Saat ini menjadi pimpinan Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS),

Check Also

Print

Perbedaan Worldview Islam dan Barat

Dengan menggunakan worldview sebagai tolok ukur identitas suatu peradaban sebenarnya telah dapat diketahui bahwa antara ...

%d bloggers like this: