Muhsinin

Pada Ramadhan tahun 1433 ini saya mendapat undangan dari Indonesian Muslim Community of Victoria (IMCV), Melbourne untuk tausiyah selama Ramadhan. Banyak pertanyaan dan pernyataan yang patut dijawab dan direnungkan. Salah satunya dari bang Nuim Khayyat, penyiar ABC dan tokoh senior masyarakat Indonesia di Melbourne. Katanya ketika ia pulang ke Indonesia ia dapati sambutan ramadhan dimana-mana luar biasa meriahnya. Tapi, tanyanya, mengapa keghairahan ini tidak berpengaruh pada surutnya tindakan amoral, korupsi, kejahatan yang dilakukan umat Islam.    

Saya tidak sempat menjawab. Jawabannya saya curahkan dalam tausiyah. Masalah pelaku tindakan amoral seperti korupsi, menipu rakyat, menyalahgunakan kekuasaan, mencuri, merampok, membunuh, dsb harus dianalisa dengan pisau makna-makna dalam berIslam.

Pisau analisa itu dapat dirujuk kepada tiga terma yang diajarkan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad saw yaitu Islam, Iman dan Ihsan. Mungkin lebih sederhananya adalah trilogi ilmu, iman dan amal, yang menunjukkan suatu tahapan.

Benar, implikasi adanya tahapan dari trilogi itu sudah disinyalir oleh Nabi Muhammad saw. Suatu hari datang kepada Nabi orang-orang Badui dan berkata “kami telah beriman”. Nabi lalu menjawab “belum, katakan saja ‘kami telah berislam sedangkan iman itu belum masuk kedalam hati kalian”. Mungkin mereka lalu bersungut-sungut sebab mereka belum dianggap Mu’min meskipun telah menjadi Muslim.

Mungkin mirip dengan orang yang ingin mendapat kewargaan dari suatu Negara, untuk menjadi Muslim ada syarat, rukun atau tahapannya. Tahapan menjadi Muslim ada lima: tahap pertama bersyahadat, pertanda resminya seseorang menjadi Muslim. Jika sudah masuk Islam maka barulah ia wajib menempuh tahap-tahap berikutnya yaitu shalat 5 waktu (mushalli), berpuasa di bulan ramadhan dan mengeluarkan zakat (muzakki) serta berhaji jika mampu, (hadith riwayat Bukhari-Muslim no 1389/1425). Jadi menjalankan kelima rukun Islam baru pertanda seseorang menjadi Muslim.

Namun, berislam dengan menjalanan rukun Islam masih harus ditingkatkan kualitasnya dengan disertai keimanan. Keimanan tidak dalam bentuk perbuatan sebab rukunnya tidak melibatkan amal ibadah tapi ketetapan hati dan keyakinan batin. Rukunnya adalah iman pada Allah, Malaikat, Rasul-rasul, Kitab-kitab yang pernah diturunkan, hari akhir dan Taqdir.

Jika seorang meyakini keenam rukun itu ketika ia menjalankan tahapan atau rukun Islam, ia akan naik statusnya menjadi mu’min. Untuk itu ada satu tip sederhana dari Nabi bagaimana meningkatkan Muslim menjadi Mu’min. Nabi bersabda:”Sembahlah Allah, hingga datang keyakinan dalam hatimu!” Artinya bertekunlah atau istiqamahlah dalam beribadah menjalankan rukun-rukun Islam, sehingga datang keimanan kepadamu.

Ketika keisalaman itu meningkat menjadi keimanan, maka maka shalat, puasa, zakat dan hajinya serta ibadah lainnya mempunyai dampak pada jiwa dan perilaku seseorang. Orang yang shalat dengan iman jiwanya akan bersih dan pasti menolak berbuat kotor, keji dan jahat. Orang yang berpuasa karena iman, akan bersih dari dosa-dosa, bahkan bisa sebersih jabang bayi. (HR al-Nasa’i, Ahmad, Ibn Khuzaimah, Ibn Majah dan al-Bayhaqi). Sama juga bagi yang berhaji. Jika ia haji karena iman (mabrur) bisnisnya akan untung dan akan dapat pahala sorga.

Sebaliknya, orang shalat tanpa iman hingga lupa apa yang diucapkan dalam shalatnya adalah celaka (al-Ma’un 4-5). Orang yang berpuasa tanpa iman, tentu rasa lapar dan dahaganya tidak mendidik jiwanya. Dan berhaji tapi tanpa iman maka hajinya tidak akan merubah perilakunya, tidak memperbaiki nasibnya dan bahkan hanya akan merugikannya,.

Ringkasnya ketika keislaman sudah dikuasai keimanan, maka dampaknya adalah kejernihan jiwa dan kebaikan perilaku. Itulah derajat ihsan. Ihsan adalah hidup berislam dengan iman hingga merasa seakan selalu melihat dan diawasi Tuhan. Orang-orang inilah yang disebut dalam al-Qur’an “muhsinin”. Islam bagi muhsinin adalah kebutuhan hidup, jalan hidup dan bahkan petunjuk untuk menyelesaikan persoalan hidup.

Setara dengan tingkatan ihsan adalah tingkatan “taqwa”. Taqwa lebih ketat lagi dari ihsan. Sebab taqwa sudah pada tahap super hati-hati dalam berbuat apapun. Kita sering mengartikannya takut, padahal maknanya adalah menjaga diri dari segala yang membahayakan atau berjaga-jaga dan melindungi diri dari sesuatu. Dalam arti lain taqwa adalah “menjaga diri” karena takut akan berbuat dosa, takut khilaf, takut salah dan takut akan melanggar larangan Allah. Menurut Umar ibn Khattab orang taqwa hidupnya seperti berjalan disemak berduri dan takut tertusuk duri. Jika duri-duri itu adalah korupsi, mencuri, berbuat dosa besar atau dosa-dosa sosial lainnya maka seorang Muslim yang muhsin dan muttaqin takut melakukan itu semua.

Orang yang bertaqwa dan sabar adalah hebat (Ali Imran 186), tidak akan menghadapi bahaya apapun (Ali Imran 120), akan diberi solusi dari setiap masalah dan rezeki yang tak diduga-duga (al-Talaq 2-3). Pendek kata Allah akan menjadi pelindung orang-orang yang bertaqwa (al-Nahl 128) dan penjaga bagi yang berislam pada tingkat Ihsan (al-Jatsiyah 19). Janji Allah jelas “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang muhsinin. (Al-nahl 128). Karena orang menjaga dirinya maka Allah menjaganya. Ini artinya berIslam itu untuk Allah tapi dampaknya kembali kepada diri manusia sendiri.

Disini kita tahu jawaban dari pertanyaan bang Nuim Khayyat tadi. Mengapa korupsi dan dosa-dosa sosial lainnya masih mendominasi wajah bangsa ini, atau mungkin umat Islam di negeri-negeri Muslim yang lain. Jawabnya jelas, bahwa keislaman umat Islam belum sampai pada tahap mu’min, belum juga pada tingkatan muhsin, apalagi pada tingkat taqwa.

Masih banyak umat Islam yang belum bisa merasakan nikmatnya Islam dan Iman. Islam bagi mereka masih dianggap beban berat. Masih banyak Muslim yang belum sempurna menjalankan rukun Islam, apalagi disertai keimanan. Keislaman pada tingkat ini tentu tidak berpengaruh pada perilaku sosialnya. Boleh jadi mereka shalat, berpuasa, pergi haji, dan berzakat tapi ketika harus memilih antara kebaikan dan kemungkaran ia gagal dan salah memilih. Tidak mustahil pula orang seperti ini akan salah niat “saya korupsi untuk kebaikan”.  Bahkan dalam bahasa  liberal “apapun bisa kita lakukan asal tujuannya baik”. Atau boleh jadi ketika mereka berbuat dosa menganggap “tidak ada orang lain yang tahu”. Mereka, seperti tidak yakin bahwa Allah tahu.

Dimana letak salahnya? Kesalahannya terletak pada ilmu umat Islam tentang Islam, iman, ihsan dan taqwa. Boleh jadi ilmu mereka kurang, atau salah. Yang kurang bisa ditambah, tapi yang salah tidak mudah dibetulkan. Maka dari itu sebagai solusinya yang komprehensif, semua  ceramah, pengajian dan training serta pendidikan Islam perlu menambah ilmu dan membetulkan kesalahan faham umat Islam. Islam mestinya diajarkan sebagai ilmu dan diamalkan dengan penuh keimanan. Jika itu telah dilakukan maka Islam akan menjadi perilaku sosial. Untuk itu semua lini pendidikan Islam mesti mengangkat derajat muslimin menjadi muhsinin. Sesudah itu kita harus yakin akan janji Allah (Al-Ankabut 69) bahwa muhsinin akan diberi jalan-jalan kemudahan dalam perjuangan mereka. Wallahu a’lam

About Hamid Fahmy Zarkasyi

Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil, lahir di Gontor, 13 September 1958,. Saat ini menjadi pimpinan Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS),

Check Also

Print

Perbedaan Worldview Islam dan Barat

Dengan menggunakan worldview sebagai tolok ukur identitas suatu peradaban sebenarnya telah dapat diketahui bahwa antara ...

%d bloggers like this: