Tuhan dalam Teori

Seorang remaja Amerika suatu hari keluar rumah untuk jalan-jalan bersama tiga orang kawannya. Sewaktu pamitan, ibunya berpesan: “Semoga Tuhan bersama kalian”. Anaknya dengan ringan menjawab: “Tuhan boleh ikut asal mau di bagasi”. Dalam perjalanan, mobil yang dinaiki anaknya mengalami kecelakaan hebat. Anak remaja itu meninggal dunia, mobilnya hancur, tapi bagasinya masih utuh.

Bagi seorang mukmin kisah ini sudah membuktikan adanya Tuhan. Tapi kisah kecelakaan maut itu hanya sekelumit dari jutaan kisah ateisme yang melanda masyarakat Barat. Asalnya adalah buah pikiran para intelektual yang menjadi teori.  Buah pikiran itu lalu dipraktikkan dalam dunia pendidikan dan hasilnya adalah lahirnya pandangan hidup masyarakat.

Namun satu setengah dekade lalu, dosen dan  mahasiswa di beberapa universitas di Barat mulai siuman. Pada tahun 1990, Jeff, misalnya,  seorang mahasiswa pascasarjana program pendidikan matematika University of New York di Bufallo mengeluh. Ia sering seminar  di fakultasnya  tentang asas filosofis teori konstruksi dalam pendidikan matematika. Namun di situ worldview yang dominan adalah sikap agnostic (inkar Tuhan) dan faham relativisme postmodern (alias ragu pada kebenaran).

Sebagai seorang Katholik, Jeff terdorong untuk mengikuti saran Francis Schaeffer agar setiap komunitas intelektual melibatkan sudut pandang Kristen. Jeff lalu mencoba menawarkan ide dalam seminar itu. “Tuhan yang berwujud Trinitas, adanya berbagai macam bahasa dan kemampuan manusia berkomunikasi dengan bahasa perlu dipertimbangkan sebagai komponen kunci untuk memahami ide-ide matematis”, katanya. Tak pelak lagi, kawan-kawan sekelasnya resisten alias menolak. Alasan mereka, karena agnostisisme adalah jawaban tepat perihal Tuhan.  Bagi mereka tidak mungkin aspek teologi bersatu dengan teori tentang konstruksi ilmu pengetahuan manusia.

Di Northern Illinois University kasusnya mirip. Dave yang menyelesaikan dissertasinya di situ pun gelisah. Pasalnya para mahasiswa dan dosen umumnya berfaham konstruksionisme yang didasari pada relativisme intelektual dan moral. Konstruksionisme adalah teori ilmu pengetahuan dalam sosiologi dan teori komunikasi yang mengkaji perkembangan pemahaman yang tercipta secara bersama tentang dunia.

Kegelisahan ini dia tuangkan dalam bab pendahuluan dissertasinya.  Ia lalu diuji oleh empat orang Kristen dan seorang Yahudi Orthodok. Tapi herannya keempat penguji Kristen itu sepakat dengan Dave.  Sedangkan penguji Yahudi justru yang menganggap tidak ada masalah dan bahkan sepakat dengan relativisme intelektual dan moral.

Sikap agnostic atau inkar dan ragu akan wujud Tuhan dalam kehidupan intelektual Amerika adalah wajar. Karena negara itu adalah negara sekuler liberal dan bukan negara agama. Itulah masalahnya. Sekuler karena memisahkan agama dari ranah sosial, intelektual dan politik. Liberal karena semua orang bebas beragama dan juga bebas tidak beragama.

Namun, kerancuan ilmu sekuler mulai disadari. Seorang pakar studi Islam dari Georgetown University, John L Esposito dalam Seminar Islamic Philosophy and Science di Penang Malaysia tahun 1989 mengakui hal itu. John menyatakan bahwa Barat kini mengalami deadlock, karena telah menarik dua garis lurus dari makna dua realitas: empiris dan rasio. Dua garis lurus itu tidak akan pernah bertemu. Dua garis itu ini dalam bahasa Descartes disebut extended substance dan rational substance. Artinya realitas itu ada dua yang empiris-nyata dan yang rasional. Esposito mungkin juga setuju bahwa deadlock itu karena dikotomi ilmu dan agama, atau agama dan politik.

Kembali ke soal teori berfikir.  Dengan worldview ateis Lev Vygotsky, psikolog asal Rusia menggambarkan proses psikologis fikiran manusia. Ia memperkenalkan konsep zona perkembangan proximal (terdekat) atau proximal development. Artinya, dalam proses pembelajaran seorang anak ada sebuah area di mana anak tersebut harus diberikan bantuan eksternal untuk dapat belajar. Ini merupakan pelengkap dari cara-cara tradisional yang disebut perkembangan aktual (actual development), yaitu proses mengetahui secara mandiri tanpa dibantu.

Teori Vygotsky ini bagi komunitas peneliti pendidikan matematika adalah upaya mengkaitkan ilmu dengan interaksi sosial. Tapi ini juga merupakan kritik terhadap penganut aliran konstruksionis radikal yang mengklain bahwa ilmu itu dapat muncul dari dalam fikiran seseorang ketika ia menafsirkan pengalaman dan lingkungannya.  (1978, pp. 88-91). Pandangan Vygotsky berkembang di lingkungan budaya Marxist Soviet antara tahun 1915 dan 1935. Sudah barang terntu pandangan ini berasal dari sistim pemikiran dialektika Hegel. Hegel mengingkari hubungan agama wahyu , termasuk wujud Tuhan, dengan teori tentang perkembangan pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia. (Lihat McTaggart, J. M. E.. Studies in the Hegelian dialectic (2d reprinted ed.), Kitchener, Ontario: Batoche Books. 2000, 222-225).

Nampaknya yang disoal Jeff dan Dave adalah teori-teori semacam Vygotsky ini. Maka waja jika disana ada gugatan akademis terhadap konsep mengetahui yang dikotomis dan ateis itu. Logikanya seperti sebuah premis jika-maka. Jika ilmu pengetahuan bisa dikembangkan berdasarkan worldview sekuler, mengapa tidak bisa dikembangkan dengan worldview religius. Begitu misi yang dibawa Jeff dan Dave. Jika agama menjanjikan kesalehan perilaku maka disana mesti ada kesalehan berfikir. Dengan kata lain jika teori konstruksionisme Vygotsky bisa diterima maka teori yang berbasis pada keyakinan suatu agama juga harus diterima.

Logika inilah yang ditangkap  Howell, R.W. dan Bradley, W.J. Keduanya lalu mengedit dan menerbitkan kumpulan makalah tentang proses berfikir yang ia beri judul  Mathematics in a Postmodern Age: A Christian Perspective , Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing Company (2001). Intinya buku ini menawarkan worldview Kristen untuk dipakai menguji berbagai sudut pandang yang secara epistemologis teapat. Misalnya untuk menguji bagaimana anak-anak mengetahui dengan merujuk informasi dari firman sang Pencipta.

Dalam Islam istilah ilm telah memiliki konotasi dan denotasi iman. Iman memiliki konsekuensi amal. Obyek ‘ilm adalah semua realitas wujud, baik empiris maupun non empiris. Karena luasnya makna ilm maka obyek ilm pun tidak terbatas. Ilm pun tidak terdefinisikan, meski dapat digambarkan. Tuhan berada di semua obyek ilmu, karena semua itu bagian dari ciptaannya. Maka dari itu pertanyaan dimana posisi Tuhan dalam epistemologi Islam adalah absurd, apalagi dalam kehidupan sosial.

Nampaknya kisah kecelakaan itu bisa bersifat metaforis. Maksudnya, jika “menaruh” tuhan di bagasi saja telah membawa maut, maka membuang “tuhan” dari fikiran, sekolahan, lembaga pendidikan dan masyarakat juga akan membawa kematian peradaban. Mungkin, karena keprihatinan situasi itu maka Dogulas Haddows menulis essai berjudul Hipster: The Dead End of Western Civilization.

Tulisan pernah dimuat di Jurnal Islamia Vol. IX No. 1 tahun 2014

About Hamid Fahmy Zarkasyi

Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil, lahir di Gontor, 13 September 1958,. Saat ini menjadi pimpinan Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS),

Check Also

substansi peradaban islam

Substansi Peradaban Islam

Makna Peradaban Islam Islam yang diturunkan sebagai din, sejatinya telah memiliki konsep seminalnya sebagai peradaban. ...

%d bloggers like this: